Foto Wedus Gembel Diburu Wisatawan
Foto-foto wedus gembel yang menghantam warga lereng Gunung Merapi laris manis diburu pembeli
Editor:
Tjatur Wisanggeni
TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN -- Foto-foto wedus gembel yang menghantam warga lereng Gunung Merapi laris manis diburu pembeli.
"Wedhus gembelnya itu menyerupai wajah seorang kakek berambut putih dan berjanggut," terang Wagimin (30), menjelaskan tentang foto yang dijualnya.
Saat Tribun Jogja, mendatangi lapaknya di Kaligendol, Kepuharjo, Cangkringan, Rabu (28/12/2010), Wagimin sedang dikerumuni wisatawan yang datang dari segala penjuru daerah.
Mereka bertanya soal foto-foto yang dijual mulai dari letusan pertama 26 Oktober, letusan 4 November hingga kondisi desa yang luluh lantak pasca letusan. Bahkan foto-foto tersebut dibuat ukuran kecil dan dijadikan satu frame, sehingga tampak menarik.
"Kalau yang ukuran 10R harganya Rp 20 ribu, dan yang 30 R harganya Rp 25 ribu, ini foto hasil jepretan langsung bukan replika," ujar Wagimin yang juga warga asli Dusun Jambu.
Wagimin mengatakan ia bekerjasama dengan temannya seorang jurufoto keliling di desanya yang biasa mengabadikan acara pernikahan. Temannya tersebut memanfaatkan momen erupsi Merapi dengan mendokumentasikan peristiwa tersebut.
"Daripada menganggur di pengungsian gak ada kerjaan, mending saya jualan VCD dan foto ini," ujarnya.
Wagimin menuturkan foto-foto wedus gembel yang menyerupai wajah kakek berambut putih dan berjanggut itu yang paling digemari. Dalam sehari saja bisa laku 10-15 lembar. Sementara untuk VCD erupsi Merapi dijual mulai harga Rp 30 ribu - Rp 40 ribu. VCD itu berisikan peristiwa meletusnya Merapi yang berdurasi 1 jam 4 menit. Beda harga itu biasanya ada VCD yang juga memuat upacara labuhan Merapi terakhir Mbah Marijan.
"Untuk VCD sehari saja bisa laku 20 keping itu kalau ramai, kalau sepi paling sedikit 10 keping," jelasnya.
Wagimin mulai berjualan jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Ia hanya menggunakan lapak yang dibuatnya sendiri dari bambu dan terpal seadanya. Lalu foto-foto digantung di dinding lapak dan VCD nya juga di tata dengan rapi. Saat Natal kemarin, Wagimin mengaku sehari laku 50 keping VCD dan 40 lembar foto.
"Lumayan juga bisa nambah penghasilan buat keluarga, karena sejak Merapi meletus saya menganggur," ujarnya yang sehari-hari menjadi kuli pengangkut pasir di Kali Gendol ini.
Senada dengan Muji, warga Dusun Kopeng yang juga menjual VCD dan foto dokumentasi letusan Merapi. Sehari dia bisa menyiapkan 30 keping VCD, dan rata-rata habis separuhnya.
Ia juga berpendapat jualan VCD dan foto ini sangat menguntungkan, apalagi saat liburan banyak wisatawan yang datang ingin menyaksikan langsung wilayah Merapi yang terkena bencana.
Saat Tribun Jogja menemui pada jam 9 pagi ini, dagangannya udah laku 5 keping. "Kayaknya stok harus nambah, pengunjung hari ini ramai sekali," ucapnya. (*)