Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Ny Ripah Mengaku Satu Sel dengan Hantu

Bisa jadi tahanan ini hanya ingin bebas dari jeruji besi, tetapi mungkin saja ceritanya tidak mengada-ada.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Gusti Sawabi

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Bisa jadi tahanan ini hanya ingin bebas dari jeruji besi, tetapi mungkin saja ceritanya tidak mengada-ada. Tahanan ini mengaku dikejar-kejar hantu dan histeris.

Baru sehari menghuni sel tahanan Polsek Bubutan, Ny Ripah (51) benar-benar menderita lahir dan batin. Ia stres karena harus jauh dari keluarga dan yang mengejutkan dia mengaku dihantui selama di balik jeruji besi.

Pengakuan yang oleh banyak orang dianggap tidak masuk akal itu tetap saja membuat geger semua penghuni Mapolsek, Minggu (13/3/2011/). Kegaduhan yang dibumbui dengan cerita-cerita misteri itu bermula setelah Ny Ripah, menangis histeris.

Perempuan asal Pondok Benowo Indah, Surabaya itu, ditahan sejak Sabtu (12/3/2011) karena kasus pencurian. Pagi harinya, janda tiga anak itu depresi dan menangis tiada henti. Ia menga­ku dihantui makhluk halus. Ia bersumpah ceritanya itu bukan akal-akalan untuk mengelabui petugas. Untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Polsek Bubutan akhirnya menugaskan seorang polisi khusus menemani Ripah.

“Saya sendirian di dalam sel. Tapi rasanya ada makhluk lain yang menghuni sel ini,” ujar Ripah saat ditemui Surya, Minggu (13/3/2011).

Penghuni lain yang dilihat Ripah bukan manusia biasa. Teman sekamar Ripah itu diceritakannya berwujud manusia berkepala kerbau. “Sosoknya manusia, Mas. Tapi, waktu saya lihat kepalanya lha kok mirip kerbau,” tuturnya sembari menitikkan air mata.

Ripah tidak menyangka, perjumpaan dia dengan aparat hukum untuk kedua kalinya itu harus dilalui dengan lebih berat. Pada 2008 lalu, Ripah memang pernah ditangkap anggota Polsek Benowo karena mencopet di Pasar Sememi.

Rekomendasi Untuk Anda

“Dulu saya ditangkap Polsek Benowo. Saya juga dititipkan di tahanan di sini (dulu Polresta Surabaya Utara) dan tidak ada apa-apa,” ujar Ripah.

Sebelum polres-polres di Surabaya dilebur menjadi Polrestabes Surabaya, markas Polsek Bubutan saat ini adalah kantor Polres Surabaya Utara. Ripah kala itu dititipkan di sana lantaran di Polsek Benowo tidak ada tahanan khusus perempuan. Saat itu ia ditahan bersama sejumlah tahanan wanita, namun kini ia menghuni sel tahanan seorang diri.

Sosok siluman kerbau itu diceritakan Ripah hendak menyeruduknya. Matanya merah dan sepertinya terganggu dengan kehadiran Ripah. Sebelum Ripah masuk sel, kamar tahanan itu sudah lama kosong. Lokasi tahanan perempuan itu juga mojok dan jarang terlihat ada polisi lalu lalang. Berbeda dengan tahanan lelaki yang dihuni banyak orang dan lokasinya dekat sejumlah ruang kerja anggota Polsek Bubutan.

Begitu melihat sosok manusia berkepala kerbau itu, Ripah langsung beranjak dari duduknya. Dia lari ke bagian luar sel, namun masih di dalam tahanan. Namun, entah mengapa Ripah mengaku tidak bisa berteriak minta tolong. Lehernya tercekat. Dia hanya ketakutan dan menangis.

“Saya langsung lari. Untung saya tidak kena seruduk manusia kerbau itu. Saya melihat ada meneer londo (sebutan untuk lelaki Belanda) yang membawa anak kecil menolong saya. Dia merangkul hingga kerbau itu tak bisa menyeruduk saya,” kata Ripah sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Matanya masih sembab karena kebanyakan menangis dan sorot matanya penuh ketakutan.

Sosok pria Belanda itu tidak begitu jelas dilihat Ripah. Hanya saja, dia menggambarkan sosok itu bertubuh besar dan berambut pirang. Usai menolong Ripah, meneer londo dan anaknya itu lenyap di balik tembok.

Sampai dia menceritakan peristiwa ganjil itu keesokan harinya, Ripah masih tak bisa menahan rasa takut. Begitu takutnya, Ripah tidak bisa memejamkan mata semalaman. Bahkan, dia menahan buang air kecil hingga berjam-jam.

Godaan dari penghuni lain tak berhenti sampai di situ. Menjelang Salat Subuh, Ripah mengaku beberapa kali tubuhnya disentuh dari belakang. “Saya di-jawil-jawil, Mas. Saya menoleh tapi tidak terlihat siapa yang njawil. Saya hanya bisa menangis dan berdoa sebisa mungkin,” imbuh Ripah.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas