Ikan Aceh Diterpa Isu Dampak Nuklir
Namun, isu via sms itu disanggah Sekretaris Jenderal Departemen Kelautan dan Perikanan (Sekjen DKP), Syamsul Muarif
Editor:
Harismanto
TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH - Sejak tiga hari terakhir berkembang isu bahwa ikan-ikan laut di Indonesia, termasuk di Aceh, kemungkinan ikut terkontaminasi dampak nuklir akibat meledaknya reaktor nuklir di Jepang pascatsunami. Namun, isu via sms itu disanggah Sekretaris Jenderal Departemen Kelautan dan Perikanan (Sekjen DKP), Syamsul Muarif, Minggu (20/3).
Dengan mengutip penjelasan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DKP RI, Sekjen DKP menyampaikan kepada Serambi kemarin via sms bahwa stok ikan di perairan Indonesia adalah stok ikan tropis yang tidak melakukan migrasi (ruana) ke perairan dingin (subtropis). Jadi, tidak akan ada stok ikan Jepang yang hijrah ke Indonesia, termasuk ke Aceh. Demikian pula sebaliknya.
“Dengan demikian, ikan Indonesia tidak mungkin terkontaminasi nuklir yang ada di Jepang, akibat meledaknya reaktor nuklir di negara itu pascastunami dua pekan lalu,” kata Sekjen Syamsul Muarif.
Penegasan itu dia utarakan sehubungan dengan pertanyaan Serambi kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Ir Razali MSi mengenai isu bahwa ikan-ikan di Indonesia, termasuk di Aceh, saat ini kemungkinan besar terkontaminasi nuklir. Lalu, Razali meneruskan pertanyaan via sms tersebut kepada Sekjen DKP. Selang sehari, barulah pertanyaan tersebut dijawab.
Sebelumnya, Sabtu (19/3/2011), sejumlah wartawan Serambi menerima sms bertajuk Pengumuman Darurat. Isinya: Ledakan reaktor nuklir di Jepang, tidak hanya mengakibatkan radiasi di udara dan darat. Namun, disinyalir juga akan mengontaminasi laut Jepang yang tentunya akan menimbulkan efek pada makhluk hidup di laut. Mengingat di bulan Maret-Juni adalah waktu bermigrasi ikan laut dari perairan dingin ke perairan hangat, maka besar kemungkinan ikan laut di Indonesia juga terkontaminasi dampak nuklir tersebut. Stop mengonsumsi ikan laut!
Begitu mendapat sms yang diforwardkan Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh itu, Sekjen DKP Syamsul Muarif langsung memerintahkan Balitbang DKP untuk mengumpulkan para ahli dan peneliti, kemudian pada hari Senin ini (21/3/2011) akan diadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi isu yang telah meresahkan masyarakat tersebut.
Sementara para pakar belum berhimpun dan konferensi pers belum digelar, Sekjen DKP, Sabtu lalu, spontan meminta penjelasan sementara dari Balitbang DKP untuk membuat jawaban singkat atas isu yang beredar via sms tersebut.
Lalu, Minggu kemarin keluarlah penegasan Balitbang tersebut bahwa tidak akan ada stok ikan Jepang yang hijrah ke Indonesia. Demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, ikan Indonesia tidak mungkin terkontaminasi nuklir yang ada di Jepang, akibat meledaknya reaktor nuklir di negara itu baru-baru ini. (*)