Pelemahan Rupiah Makin Dalam, Ini Ngaruhnya ke Dompet Masyarakat
Pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, barang impor, transportasi, serta pangan seperti kedelai.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Rupiah melemah hingga Rp16.970 per dolar AS dipicu ketidakpastian geopolitik dan kebijakan AS.
- Pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, barang impor, transportasi, serta pangan seperti kedelai.
- Dampak ke harga diperkirakan mulai terasa awal Februari 2026, menjelang Ramadan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah makin tertekan pada perdagangan Rabu (21/1/2026) siang.
Mengutip Bloomberg, sekitar pukul 13.58 WIB, rupiah makin mendekati level Rp17.000, tepatnya di posisi Rp16.970 per dolar AS.
Tercatat, pada pagi harinya rupiah masih di posisi Rp 16.953 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari sentimen global, khususnya meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Baca juga: Rupiah Kembali Melemah Setelah Sempat Menguat Tipis di Level Rp 16.953 per Dolar AS
Pada Senin (19/1/2026), Presiden AS Donald Trump kembali mempertahankan tuntutannya atas Greenland.
"Dalam wawancara dengan NBC News, Trump juga tidak menutup kemungkinan pengerahan militer untuk pulau tersebut, sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar global," ujar Ibrahim, Selasa (20/1/2026).
Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah AS sebelumnya melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Situasi ini mendorong pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan memilih aset aman, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim menambahkan, pernyataan Trump yang akan mengenakan tambahan tarif impor sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris bakal jadi penghadang rupiah.
Dampak ke Masyarakat
Ibrahim menyampaikan, pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sesuatu yang biasa, sebab dampaknya akan menambah pengeluaran masyarakat.
"Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan-bahan pokok," ucap Ibrahim.
Ia mencontohkan, barang-barang yang akan naik seperti produk impor yakni bahan bakar minyak (BBM), kedelai, kacang, barang-barang elektronik, dan komoditas lainnya.
Saat rupiah melemah, biaya yang dikeluarkan untuk impor makin tinggi. Dari kondisi ini, penjual akan menaikkan harga jualnya ke masyarakat.