Kali Senowo Jadi Titik Kritis Material Lahar Dingin
SURVEI dan pengamatan morfologi alur sungai di lereng barat gunung Merapi menunjukkan hulu Kali Senowo jadi titik kritis akumulasi
Editor:
Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Oktora Veriawan
SURVEI dan pengamatan morfologi alur sungai di lereng barat gunung Merapi menunjukkan hulu Kali Senowo jadi titik kritis akumulasi material lahar dari atas.
Besaran material yang mengalir ke Kali Senowo bisa mencapai 4-10 juta meter kubik.
Peneliti geomorfologi dari Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, I Made Susmayadi, menjelaskan, aliran lahar dingin di sisi barat akan terfokus ke Kali Senowo 1, 2, dan 3 yang kemudian menyatu di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut.
Alasan lahar dingin akan terakumulasi di Kali Senowo dikarenakan hulunya paling tinggi di antara hulu-hulu sungai lainnya di sisi barat Merapi.
Selain itu, ketiga hulu Kali Senowo seperti cendawan yang siap menerima guguran material vulkanik karena ujung sungai menjorok mendekati puncak.
"Dari Stasiun Klatakan terlihat jelas hulu Kali Senowo 1,2 dan 3, menjorok mendekati puncak. Di titik itulah material vulkanik sisa-sisa erupsi sebelum 2010 terakumulasi dan siap meluncur ke aliran sungai ini. Besarannya bisa 10 persen dari total material yang ada di puncak," kata Made.
Berbeda dengan Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu hanya akan mengalirkan material vulkanik jika aliran air akibat hujan dari puncak sangat besar.
Menurut Made, material vulkanik di Kali Trising dan Apu sebagian besar merupakan sisa material dari lahar dingin yang terjadi awal tahun ini.
"Jika Senowo materialnya langsung dari Merapi, maka Kali Apu dan Trising materialnya merupakan sisa-sisa dari material lahar dingin yang terjadi awal tahun ini yang menumpuk di hulu," kata Made sambil menunjuk lokasi penumpukan lahar dingin berada di kaki gunung yang membentuk celah air terjun kering di ketinggian 1.400 mdpl sesuai data GPS.
Kondisi riil di kawasan hulu ini jadi peringatan penting bagi masyarakat di sektor barat lereng Merapi, terutama di sepanjang alur Kali Pabelan.
Kali Apu, Kali Trising, dan Kali Senowo 1, Senowo 2, dan Senowo 3, pada akhirnya menyatu di sungai ini.
Staf pemantauan BPPTK Yogyakarta, Alzwar Nurmanaji, menambahkan lahar dingin yang mengalir ke Kali Apu dan Trising, merupakan material longsoran lokal di kaki Merapi yang sering terjadi belakangan ini.
Sebelumnya, ke hulu penelaahan morfologi di wilayah hilir dilakukan di tempuran Kali Pabelan dan Kali Trising. Di pertemuan dua sungai ini, jembatan yang menjadi penghubung antara Desa Krogowanan dengan Desa Sengi belum juga diperbaiki sampai saat ini.
Warga hanya bisa mengandalkan jembatan darurat yang dibangun seadanya dari lima papan yang disusun berjejer tepat di muara Kali Trising. Ketinggian jembatan tersebut hanya dua meter dari permukaan sungai, sehingga cukup berbahaya dilewati jika hujan turun karena debit air akan meninggi.
Baca tanpa iklan