Penetrasi Kuat Akasia Dekuren di Lereng Merapi
ERUPSI Merapi 2010 membuat kehancuran total areal hutan di sektor selatan dan tenggara gunung. Namun saat ini, kawasan itu mulai
Editor:
Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Sigit Widya Purna
ERUPSI Merapi 2010 membuat kehancuran total areal hutan di sektor selatan dan tenggara gunung. Namun saat ini, kawasan itu mulai menghijau, meski vegetasinya didominasi tanaman eksotik, seperti akasia dekuren (acacia deccurens).
Jenis tanaman ini bisa tumbuh sangat cepat dan menyebar luas. Di lereng bawah bukit Kendil di Kalitengah Lor, akasia dekuren tumbuh subur.
"Bijinya memang kuat, jadi ketika kena awan panas pun tetap utuh, sehingga bisa cepat tumbuh menyebar ketika bungkusnya pecah," jelas Irwan.
Sedangkan tanaman-tanaman asli pegunungan, seperti Rasamala jarang ditemukan di jalur pendakian utara. Namun jenis lain seperti Puspa masih cukup banyak. Di kawasan puncak, persisnya di sekitar Pasar Bubrah, tanaman cantigi mulai tumbuh atau bersemi.
"Cantigi gunung merupakan tumbuhan yang memang tahan terhadap material vulkanik. Saat erupsi terjadi, tumbuhan tersebut sama sekali tidak meranggas, apalagi mati," kata Irwan sembari menyebut warga lokal menyebut tanaman ini Manisrejo.
Cantigi gunung mampu hidup selama 15 tahun. Tumbuhan yang memang khusus hidup di pegunungan tinggi tersebut mampu tumbuh maksimal hingga 20 sentimeter. Wujud tanamannya berbatang keras, berdaun kecil tapi tebal, serta berbiji.
Sebagai kawasan yang masuk wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), problem alam dan sosialnya di Merapi cukup kompleks. Menurut ketentuan, sebagai taman nasional, kawasan hutannya harus terbebaskan dari eksploitasi, dan tanamannya mesti asli.
Namun TNGM masih belum bisa sepenuhnya bebas. Warga di sekitar tapal batas taman masih leluasa masuk, mengeksploitasi sumber daya alam di dalamnya, termasuk mencari rumput di dalam areal taman nasional.
"Para peternak sebenarnya hanya mengambil rumput di hutan jika musim kemarau panjang datang. Bila musim penghujan, mereka lebih suka memanen rumput di lahan miliknya sendiri," kata Irwan Yuniatmoko, petugas TNGM ketika berada di Selo, Boyolali, Jumat (28/10/2011).
Sama halnya dengan para pencari rumput, perubahan lahan dan kerusakan hutan menimbulkan dampak serangan kera ekor panjang (Macaca Fasciculkaris).
Satwa tersebut menyerang tanaman pertanian warga di bawah area hutan, karena terbatasnya sumber pangan akibat erupsi 2010.
"Dari hasil inventarisasi primata 2010, satwa jenis tersebut di blok jalur pendakian Selo berjumlah sekitar 90 ekor. Setelah erupsi, belum tercatat signifikan berapa jumlahnya. mereka mulai tak menampakkan diri lagi karena cuaca yang memungkinkan mereka untuk tetap berada di dalam hutan," tuturnya.
Di dalam pengelolaan kawasan taman nasional, kegiatan konservasi lahan wajib dilakukan.
Tujuannya untuk mengembalikan ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alamiahnya. Dengan konservasi, fungsi taman nasional berjalan optimal, sesuai dengan daya dukung dan peranannya sebagai habitat suatu jenis tumbuhan atau satwa dalam mendukung sistem penyangga kehidupan.
Baca tanpa iklan