Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengungsi Dijangkiti Trauma Psikis

Namun justru pemerintah condong membela pelaku pembakaran rumahnya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

TRIBUNEWS.COM,SAMPANG-Konflik berlatarbelakang keagamaan kal kedua, yang menimbulkan korban jiwa dan pembakara rumah, membuat trauma psikis, penganut Syiah. Bukan hanya menimpa anak-anak pengungsi yang tinggal di pengusian, juga masyarakat dewasa, terutama kalangan ibu-ibu.

Karena itu, mereka meminta aparat keamanan segara menangkap penggerak massa sekaligus gembong pembakaran rumah dan pelaku penyerangan terhadap warga. Sebab jika mereka dibiarkan seperti kejadian sebelumnya, maka nasib pengungsi terancam jiwanya.

Ummuh Kulsum, istri Tajul Muluk, yang ditemui di lokasi pengungsian di GOR Tenis, Sampang, Selasa (28/8) mengatakan, seharusnya saat kejadian pertama, Desember 2012 lalu, pemeritah mengambil langkah tegas menangkap dan menahan pelakunya. Namun justru pemerintah condong membela pelaku pembakaran rumahnya.
   
Sebab, bukannya pemerintah menangkap pelaku, malah menangkap suaminya dan menjebloskannya ke dalam penjara dengan asumsi, jika suaminya dipenjara maka kondisi masyarakat di Karang Gayam dan Blu’uran, Kecamatan Omben, Sampang tenang dan damai.

Namun yang terjadi justru tindakan mereka lebih sadis dan kejam. “Dulu pemerintah beralasan, pecahnya konflik ini lantaran suami saya. Tapi sekarang suami saya ditahan berada di dalam tahanan, malah tindakan warga Sunni kian membabi buta. Jadi bukan karena suami saya, tapi mereka sendiri yang sengaja membuat masalah,” kata Ummuh Kulsum, beruai air mata.

Ibu lima anak ini menegaskan, ketika amuk massa itu berlangsung, ia mengenali mereka, karena saat kejadian Desember 2011 lalu, mereka juga pelakunya. Di antaranya bernisial Swn, Sdk, Hsn dan sejumlah warga lainnya.

Sayangnya, sampai sekarang aparat diam dan tidak menangkap mereka. Hal ini menimbulkan kecurigaan di kalangan masyarat Syiah, karena pemerinta terkesan membela mereka dan membiarkan warga Syiah dibantai.

Ummuh yakin, peristiwa ini ada penggeraknya, Masalahnya, sebelum kejadian, orang-orang yang selalu sesumbar dan mengancam warga. Jika warga tidak mengikuti ajarannya, maka rumah warga dibakar dan sekarang terbukti.

Rekomendasi Untuk Anda

Disinggung usulan pemerintah dan ulama Sampang yang menyarankan mereka kembali ke ajaran Sunni, dengan tegas Ummuh Kulsum menolak. Alasannya, tak ada dasarnya ulama dan pemerintah melarang perbedaan faham mereka.

Diungkapkan, selama tinggal di pengungsian mereka serasa dipenjara. Walau mereka tinggal bersama pengungsi lainnya, namun mereka dilarang ke luar area pengungsian, kendati hanya untuk membeli sabun mandi atau sikat gigi serta keperluan lain tidak boleh.

Begitu juga, mereka tidak bisa mengikuti perkembangan luar. “Di sini tidak ada surat kabar atau pun TV. Bicara dengan wartawan pun dibatasi dan ditunggui aparat,” tutur Ummuh Kulsum.

Sementara trauma psikis sudah nampak di wajah anak-anak pengungsi. Sebagian besar dari wajah mereka terlihat kusut dan lelah. Mereka hanya tidur dan duduk di lantai gedung berlaskan karpet, tanpa bantan dan guling.

Ketua Komite Anak, Sampang, Untung Rifai, yang saat itu datang memberikan bimbingan buat anak pengungsi mengungkapkan, kehadirannya untuk memberikan hiburan, sekaligus motivasi mereka, agar tetap memiliki semangat menatap masa depan.

Ketika Surya mendekati beberapa anak pengungsi dan ditanya kondisinya, mereka hanya menggeleng lalu menjauh. “Kami tidak boleh bicara dengan wartawan,” kata salah seorang anak, berlari bergabung dengan anak pengungsi lainnya.

Selain mengalami trauma, sejumlah anak pengungsi mulai diserang penyakit diare dan saluran pernafasan. Kondisi ini diduga mereka kelelahan fisik dan trauma setelah melihat langsung kejadian pembakaran di depan mata mereka.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas