Kisah Novi, Mahluk Halus Penguasa Kali Aesesa
Kematian Yosep Adhang alias Yoris yang hanyut terbawa banjir, Kamis (10/1/2013) lalu, meninggalkan cerita mistis.
Warga setempat percaya, roh para korban yang tewas terpaksa, diduga bergentayangan di sepanjang Kali Aesesa dan Irigasi Mbay Kanan. Roh-roh itu, menurut kepercayaan warga, selalu meminta korban setiap tahun.
"Dalam dialog saya dengan dia, dia mengaku marah karena selama ini diabaikan. Ia mengatakan, masyarakat di Mbay baru memperhatikannya ketika sudah ada korban. Kalau tidak ada korban, ia diabaikan. Dia juga sempat menolak melepas korban, dengan alasan ingin bermain lebih lama dengan korban," tutur Bambang.
"Tapi saya bilang, kalau begitu kamu menyusahkan saya dan banyak orang. Akhirnya dia menyuruh saya pulang, karena tidak lama lagi korban sudah bisa ditemukan. Ternyata benar. Ketika kami baru sampai di halaman rumah duka, sudah ada informasi bahwa teman-teman Tagana sudah menemukan jasad korban," imbuh Bambang.
Selain Yoris, lanjut Bambang, korban-korban sebelumnya juga meninggal karena ulah Novi.
"Itu diceritakan sendiri oleh Novi. Kalau Yoris, Novi marah karena Yoris menabrak dia. Padahal, dia sudah bantu menyeberangkan dua ekor kambing. Tapi, korban masih mau ambil kambing ketiga," jelas Bambang.
"Ketika korban lompat ke sungai untuk ambil kambing ketiga, tubuh Yoris menabrak dia (Novi). Dia marah dan mencekik dan menenggelamkan Yoris," papar Bambang.
Cerita Bambang juga sama dengan paranormal sebelumnya, yang mengatakan sejak siang ketika Yoris tenggelam hingga malam, Yoris sebenarnya tidak hanyut atau berpindah tempat, tapi ada di dasar sungai tempat Yoris tenggelam.
Pada Kamis malam atau malam Jumat, Yoris baru dibawa Novi ke Kela, tempat jasad Yoris ditemukan. Mungkin hanya faktor kebetulan atau memang cerita itu benar adanya, setelah Yoris tenggelam, banjir di Kali Aesesa langsung surut, hujan dan angin kencang berhenti. Baru pada Jumat sore turun gerimis.
Cerita kini menjadi buah bibir masyarakat Mbay. Masyarakat di Mbay percaya, Novi merupakan roh seorang gadis remaja berusia 15 tahun, yang dicor hidup-hidup ketika pembangunan konstruksi Bendungan Sutami, beberapa puluh tahun silam.
Ada juga yang meyakini Novi merupakan 'penguasa' dan penjaga Kali Aesesa. Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, peristiwa tenggelamnya beberapa korban di Kali Aesesa setiap tahun harus dijadikan pelajaran, agar semua orang di daerah itu mawas diri dan tidak bertindak gegabah, ketika Kali Aesesa sedang mengamuk.
Novi mungkin hanya sekadar simbol dari kemarahan alam, karena kita tidak tahu berterima kasih. (*)
Baca tanpa iklan