Longsor Sebabkan Suami-Istri Terluka
Sepasang suami-istri luka-luka setelah rumah mereka tertimpa longsor di Kampung Pasirangin Lebak, Kelurahan
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA - Sepasang suami-istri luka-luka setelah rumah mereka tertimpa longsor di Kampung Pasirangin Lebak, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Minggu (21/4/2013) sekitar pukul 08.00.
Pasangan suami-istri itu, Ade Komaludin (35) dan Yani (32), tengah berada di dapur sehingga keduanya langsung tertimpa reruntuhan bangunan. Bahkan Yani sempat tertimbun hingga bagian dada. Namun berkat kesigapan warga, korban bisa segera dievakuasi.
Ade, yang ditemui di lokasi, menuturkan, pagi itu ia tengah bersiap menunaikan salat duha. Baru saja mengangkat tangan untuk takbir, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan tak lama bangunan dapur tertimpa material longsoran.
Ade langsung menuju dapur karena mengetahui istrinya tengah berada di sekitar kamar mandi untuk mematikan pompa air listrik. Ade terkejut karena bagian kamar mandi tertimpa bangunan bercampur material longsoran. Ia kemudian berupaya menolong Yani dan menemukan istrinya tertimbun hingga bagian dada.
"Tapi tak lama bangunan dapur pun ambruk dan menimpa kepala dan tubuh. Untung tidak sampai menimbulkan luka serius, dan saya berupaya keluar," kata Ade. Setelah keluar dari reruntuhan, ia segera meminta pertolongan. Tak lama warga berdatangan dan langsung berupaya mengevakuasi tubuh Yani yang tertimbun sedada.
Camat Bungursasi, Mulyadi, mengatakan, bencana longsor di Pasirangin juga menimpa bagian rumah Unang (40), hingga dinding tembok jebol. "Kedua rumah mengalami kerusakan di bagian belakang. Untung saja musibah tidak sampai memakan korban. Kedua anak Ade dan Yani saat itu sedang bermain di luar rumah," ujarnya.
Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, meninjau lokasi musibah dan akan membantu biaya pengobatan serta bantuan stimulan untuk memperbaiki kedua rumah.
Di tempat lain, pencarian tiga petani perempuan yang tertimbun longsor di Kampung Puncaklancang, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Sabtu lalu, akan dioptimalkan dengan bantuan alat berat ekskavator dan penambahan anggota tim pencari, Senin (22/4).
Walaupun belum menemukan satu pun korban, pencarian ketiga korban hilang ini dihentikan sementara pada Minggu (21/4) sore karena terhambat cuaca buruk.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Zatzat Munazat, mengatakan, bantuan alat berat dari Pertamina Energy Geothermal Kamojang akan sangat membantu upaya pencarian ketiga korban, yakni Juhaenah (36), Elah (40), dan Nenoh (47). Sebab, ujarnya, selama dua hari pencarian korban dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul, sekop, kampak, dan peralatan lainnya.
"Masa tanggap darurat kami berlakukan tujuh hari sejak kejadian. Pencarian akan kami lakukan tiga kali 24 jam. Kami harap bantuan alat berat dapat membantu upaya pencarian korban. Sebab, selama ini medan yang terjal dan longsoran yang sangat dalam menjadi kendala pencarian korban," kata Zatzat, saat ditemui di lokasi pencarian, kemarin.
Eskavator tersebut sampai ke lokasi kejadian pukul 15.10. Kendaraan alat berat ini disimpan di lokasi kejadian untuk dioperasikan, Senin. Perhutani sebagai pemilik lahan pun mengizinkan alat berat tersebut masuk menerobos kawasan perkebunan untuk mengevakuasi lokasi longsor.
Komandan Kodim 0611 Garut, Letkol Czi Dian Hendriana Surachman mengatakan, eskavator tersebut akan mengeruk tanah longsor dari hilir Sungai Ipukan Burung di dasar tebing yang longsor. Pengerukan akan dilanjutkan sampai longsoran paling hulu.
"Apabila belum juga ditemukan di dasar sungai, kami akan lakukan langkah kedua. Dari puncak tebing yang longsor, akan kami semprotkan air sehingga timbul longsor kecil yang menyapu timbunan longsor," kata Dandim.
Dandim mengatakan, panjang longsoran yang menimbun sungai tersebut sekitar 60 meter dengan kedalaman sampai 10 meter. Pada tebing tersebut pun dipasang tiga tanda sebagai lokasi terakhir ketiga korban terlihat sebelum terbawa longsor.
Menurut Dandim, tebing yang sangat curam memungkinkan korban terbawa longsor sampai ke dasar sungai. Sebab, sejumlah pohon besar di tebing tersebut pun roboh terbawa longsor.
"Kodim 0611 Garut telah menerjunkan 30 personel selama dua hari untuk melakukan pencarian. Senin, akan kami tambah menjadi 60 personel. Selain itu, akan kami dirikan tenda peleton untuk kebutuhan di lapangan," kata Dandim.
Selain personel Kodim 0611 Garut, BPBD Kabupaten Garut, Polres Garut, Tim SAR, warga, dan relawan lainnya, diterjunkan juga 30 personel Batalyon Infanteri 303 untuk mencari ketiga korban yang merupakan warga Kampung Pamulaan, Desa Parakan, Kecamatan Samarang.
Sebelumnya diberitakan, tiga petani kakak-beradik ini terbawa kemudian tertimbun longsor tebing yang tengah mereka garap menjadi kebun sayur dan kopi. Tebing yang longsor memiliki kemiringan sampai sekitar 75 derajat, tinggi sekitar 300 meter, dan lebar antara 20 meter di puncaknya sampai lebih dari 100 meter pada dasarnya.
Suami Juhaenah, Endang (40), yang kala itu, bersama para korban, selamat dari longsor tersebut. Saat itu, sekitar pukul 08.30, Endang tengah berada di halaman saung-nya yang berjarak sekitar 30 meter dari titik longsor. "Istri saya hampir selamat. Dia berlari ke arah saung menghindari tanah longsor. Saya terus memangilnya. Sayangnya, tanahnya longsor dengan cepat merembet. Istri saya terbawa longsor di hadapan saya," kata Endang. (stf/sam)