Mayat Balita yang Dibunuh Ibunya tak Diautopsi karena Harus Bayar Rp 2 Juta
Keluarga Aisyah Vani (2), bayi yang ditenggelamkan oleh ibu kandungnya sendiri sempat menolak proses autopsi.

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Keluarga Aisyah Vani (2), bayi yang ditenggelamkan oleh ibu kandungnya sendiri ke dalam tangki air, sempat menolak permintaan proses autopsi oleh pihak kepolisian.
Menurut bibi korban, Ros Rosita (49), penolakan tersebut disebabkan keluarga sudah merelakan kepergian bayi Aisyah.
Selain itu, yang lebih memberatkan keluarga untuk memberikan izin autopsi adalah keharusan membayar Rp 2 juta yang diajukan oleh seseorang yang mengaku polisi.
"Ya kami tolak, uang sebesar itu dari mana. Tapi, ya dasar kami juga orang kampung tidak ngerti. Memangnya ada ya biaya untuk autopsi?" kata Ros, di tempat kejadian perkara di Kampung Cijeungjing RT 05 RW 22 Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (11/3/2014).
Lebih lanjut Ros menceritakan, seseorang yang meminta uang untuk keperluan autopsi tersebut tidak mengenakan seragam layaknya polisi. Setelah berdebat cukup panjang, jenazah Aisyah tetap dibawa untuk dilakukan autopsi.
"Orang itu mengaku dari Polsek Padalarang. Bilangnya buat autopsi harus bayar dua juta," bebernya. "Tapi dia (oknum polisi) bilang, mau ditalangin dulu pakai duit dia. Katanya demi ibadah," sambung Ros.
Dihubungi terpisah, Kepala Polsek Padalarang Komisaris Rendra Okta menegaskan, tidak ada pungutan biaya dalam bentuk apa pun dalam proses autopsi. Menurut dia, proses autopsi dilakukan demi kepentingan penyelidikan.
"Saya baru dengar ini. Nanti saya coba cek lagi. Yang jelas tidak pernah ada (pungutan biaya)," tuturnya.