Rumah Tempe Gunungkidul Diharapkan Jadi Pioner Industri Higienis
“Harganya lebih mahal, untuk ukuran 300 gram kita jual Rp 3000, sementara ukuran 450 gram kita jual Rp 5000. Nantinya, kita berharap ukuran 450 gram
Sementara untuk menjaga lingkungan, limbah yang dihasilkan diolah menjadi biogas serta pupuk cair dan padat. Ampas kedelainya dioleh menggunakan biodigester menjadi gas yang digunakan untuk sumber bahan bakar yang ada di RTGK.
“Prosesnya benar-benar higienis,”ungkapnya.
Tri menuturkan, tempe produksi RTGK dijamin tidak akan mengganggu pasar pelaku usaha tempe lokal.
Sebab, pangsa pasarnya memang berbeda. Tempe yang dihasilkan dijual ke konsumen kelas menengah ke atas mulai dari rumah sakit serta hotel-hotel yang ada di Yogyakarta.
“Harganya lebih mahal, untuk ukuran 300 gram kita jual Rp 3000, sementara ukuran 450 gram kita jual Rp 5000. Nantinya, kita berharap ukuran 450 gram bisa dijual seharga Rp 7500,”ucapnya.
Meski baru mulai produksi, Tri mengaku respon pasar cukup baik. Tempe yang diproduksi oleh RTGK banyak diminati pelaku usaha perhotelan dan rumah sakit yang ada di Yogyakarta.
”Responnya cukup baik. Kita baru produksi sekitar 30 kilogram perhari, semuanya diserap oleh pasar,”tuturnya.
Tri menambahkan, sebagai pelopor usaha tempe higienis di Gunungkidul, pihaknya siap untuk melakukan alih teknologi dan memberikan pelatihan kepada pelaku usaha tempe lokal.
“Kita siap untuk memberikan pelatihan kepada pelaku usaha tempe lain. Harapannya, kedepan, semua pelaku usaha tempe bisa memproduksi tempe yang higienis,”imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan ESDM Gunungkidul, Hidayat berharap pengelola RTGK bisa menularkan ilmunya kepada pelaku usaha tempe lain.
Sebab, selama ini sistem pengolahan limbah usaha tempe selalu menjadi masalah yang belum bisa ditemukan solusinya.
”Masalah limbah tempe dan tahu belum ada solusinya. Diharapkan, RTGK bisa memberikan solusi kepada pelaku usaha tempe yang ada di Gunungkidul,”katanya.