Rencana Pengadaan Kereta Gantung di Bati-Malang Terbentur Dana
“Kita realistis saja, itu (kereta gantung) makan biaya besar. Sementara Pemkot tidak ada anggaran. Kalaupun dipihak ketigakan, perlu uji kelayakan,”
TRIBUNNEWS.COM,BATU - Wali Kota Batu Eddy Rumpoko pada dasarnya setuju dengan tawaran Pemerintah Kota Malang (Pemkot) membangun kereta gantung terpadu sebagai alat transportasi massal.
Fasilitas tersebut diharapkan bisa memecahkan kemacetan.
Kendati demikian, Eddy yang akrab dipanggil ER ini memberikan beberapa pertimbangan kepada Pemkot Malang, bahwa, membangun kereta gantung tidak murah.
Ia mempekirakan, untuk 1 km dengan tiga terminal menghabiskan anggaran sekitar Rp 150 miliar.
Aspek sosial lebih penting lagi. Menurut Wali kota dua periode itu, kereta gantung sebagai transportasi massal di kawasan belum maju akan memberi ekses kurang baik.
Selain itu, kebanyakan masyarakat Indonesia takut ketinggian.
“Kita realistis saja, itu (kereta gantung) makan biaya besar. Sementara Pemkot tidak ada anggaran. Kalaupun dipihak ketigakan, perlu uji kelayakan,” ujarnya, Kamis (2/10).
Kalaupun adanya kereta gantung nanti untuk memberikan kemudahan orang berwisata ke Kota Batu, ER berujar, bahwa wisatawan yang datang ke Batu mayoritas masih lokal, belum mengarah manca negara.
Wacana pembuatan kereta gantung bukan hanya disampaikan Pemkot Malang. Pada 2013, Pemkot Batu lebih dulu menyampaikannya. Namun, ada perbedaan fungsi kereta
gantung.
Untuk kereta gantung di Batu untuk berwisata.
“Kota Batu memiliki alam yang indah. Terutama dari Sidomulyo hingga Selecta. Tapi kendalanya banyak pemukiman di sana,” ujarnya.
Adanya kereta gantung nanti diharapkan bisa menaikkan posisi sebagai kota wisata karena kota wisata harus ada ikonikon yang dibuat.
“Kota ini sudah dikenal sebagai kotaapel. Ke depan kita harus memiliki ikon kereta gantung. Itu untuk mendongkrak juga kunjungan wisatawan. Ketiga, ini investasi baru ang bisa menguntuhkan investor,” katanya.
Pembangunan kereta gantung di Batu baru bisa dilaksanakan tahun depan. Tahun ini masih dilakukan kajian titik terminal.
“Nanti kami harapkan ada enam lembaga masyarakat yang ikut mengelola kereta gantung. Sehingga, meskipun ada investor tapimasyarakat ikut terlibat. Kalau pun sekarang pemkot mengeluarkan modal, itu nanti menjadi modal masyarakat,” pungkasnya.