Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Bripka Anton Mengawal Hendi Pemenggal Istri

Inilah yang dialami oleh para personel kepolisian dari Polres Sarolangun, Jambi. Diantaranya Bripka Anton Purwanto

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Kisah Bripka Anton Mengawal Hendi Pemenggal Istri
TRIBUNJAMBI/DEDY NURDIN
Bripka Anton Purwanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI -- Satu tugas polisi adalah melakukan pengawalan. Tak hanya pengawalan terhadap pejabat atau hal tertentu semata, namun juga mengawal tersangka. Termasuk diantaranya mengawal pelaku pembunuhan sadis.

Inilah yang dialami oleh para personel kepolisian dari Polres Sarolangun, Jambi. Diantaranya Bripka Anton Purwanto. Sosok polisi dari Polsek Tanjung Pauh ini merupakan satu diantara prsonel yang ditugaskan mengawal Hendi, tersangka pembunuhan sadis terhadap isterinya guna menjalani pemeriksaan kejiwaan di Rumah Sakit Umum Daerah Jambi.

Ditemui di ruang Alfa, RSJ Jambi Jumat (20/2), lelaki berportus tinggi tegap ini mengaku, ini merupakan kasus sadis pertama yang pernah di tanganinya, setelah 14 tahun menyandang sebagai personel polri.

"Baru ini ketemu kasus yang sadis, kalau dipikir-pikir diluar logika. Dia bisa membunuh istrinya sendiri, terus kepalanya ditenteng. Waduh ini susah dipercaya," katanya saat berbincang dengan Tribun. Ia pun mengaku mendapat pelajaran luar biasa dari kasus Hendi ini.

Diceritakan Bripka Anton, selama dalam perjalanan, Hendi terpaksa harus diborgol. Lantaran, pernah pada satu waktu saat akan dibawa ke RSJ tersangka sempat mencoba melarikan diri. "Waktu di bawa, pake mobil Kapolsek. Diperjalanan dia sempat mau kabur. Tapi karena tangannya diborgol kekursi, dia tidak bisa lari. Dia cuma ketawa," katanya.

Bahkan saat hari pertama tiba di RSJ, pada hari Rabu (18/2) kemarin. Hendi sempat mengancam seorang perawat disana. Hal ini terulang kembali pada hari kedua, dengan ancaman sama akan membunuh perawat disana.

"Dia kalau nengok orang yang baru ditengoknya seperti itu. Makanya harus kita kawal, takutnya ada apa-apa. Karna dia kalau sudah kenal dia mau dikasi tahu," tutur Anton.
Selama menjalani observasi di RSJ. Kondisi hendi terkadang normal dan terkadang hanya berdiam diri saja. Bahkan, satu ketika ia pernah menyampaikan rasa penyesalannya. Hendi pernah meminta untuk dihukum mati saja.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tapi saya jelaskan baik-baik kedia, hen kau kesini nak berobat biar sembuh. Kalau dikasi tau seperti itu dia ngangguk,"katanya.

Seperti terpantau, dari kejauhan pada Jumat sore, sekitar pukul 15.53 WIB Hendi menempati satu ruang observasi RSJ, di ruang Alfa no 4. Saat Tribun melihat keadaannya, ketika itu ayah lima anak ini tengah menyuap nasi yang diberikan perawat. Ia tampak mengenakan baju t sirt berwarna merah dengan garis tipis putih dan hitam. Ia bersandar di besi penopang ranjang. Sementara, tangan kirinya diborgol ke besi penopang ranjang.

Saat disapa Bripka Anton ia hanya terlihat mengangguk sesekali sambil matanya terus menatap Tribun yang ketika itu berdiri di kejauhan. Bahkan saat ditanya nama anak ke empat dan kelimanya ia masih mengingat.

"Ini aku bawa pak dokter, katanya makan yang banyak ya. Biar kau cepat sembuh,"kata Bripka Anton, yang disambut tersangka hendi dengan anggukan kepala. Gitu lah, kadang dia bisa diajak ngomong. Kadang cuma diam. Kemarin dia sempat ngeluh kepalanya sering sakit. Katanya ada orang yang ngikutinya. Kadang nabrak kepala belakangnya," tutur Bripka Anton menyampaikan keluhan tersangka.

Kepada Tribun, Bripka Anton juga menceritakan saat penangkapan tersanga yang berlangsung sekitar 1 jam. Pihak kepolisian dibantu dengan warga sekitar sempat berupaya membujuknya. Namun, tersangka Hendi menolak menyerahkan kepala istrinya. Sambil mengayunkan parang di tangan kananya kearah warga yang berupaya mendekat.

"Setelah dikepung, sambil dibujuk. Akhirnya ada warga yang mukul tangannya dengan kayu. Parangnya jatuh, baru kita tangkap rame-rame," kata Anton.

Dari informasi beberapa saksi, tersangka sebelumnya memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Bahkan ini sudah diketahui anak-anaknya. Kecurigaan pihak kepolisian muncul saat di lakukan BAP terhadap Hendi.

"Pas pertanyaan ke delapan dia ngawur jawabannya. Dia sempat kesal juga, karna waktu ditanya berapa kali dia ngeyunkan parang jawabnya beda-beda,"tutur Anton.

Ada kisah pilu lain dibalik kasus pembunuhan sadis yang dilakukan Hendi. Dimana, aksi pelaku ini ternyata dilihat langsung oleh anak ke empatnya, yang yang masih berusia 12 tahun.

"Dari informasi warga, anak perempuannya ini yang ngasi tahu warga. Dia lari ngasi tau warga, karna bisa kemungkinan kalau dia dak lari, dia di hajar bapaknya juga,"tutur Bripka Anton. Akibat peristiwa itu, anak korban mengalami trauma berat.

Terpisah, Kapolsek Pauh AKP Darmawan saat dikonfirmasi Tribun, Jumat (20/2) malam mengatakan pihaknya memang menugaskan sudah menugaskan Bripka Anton untuk membantu pihak rumah sakit selama proses observasi terhadap tersangka Hendri. Alasannya tersangka mau menurut kepada Bripda Anton.

"Kita ssudah tugaskan anggota kita berjaga disana. Tapi tidak 24 jam. Hanya pada waktu tertentu, seperti pada waktu tersangka akan mandi, atau pada waktu lain saat petugas RSJ melakukan pemeriksaan. Didampingi supaya tidak terjadi hal tidak di inginkan,"katanya via sambungan selular.

Upaya pemeriksaan kejiwaan ini diakui kapolsek pauh. Lantaran, saat dilakukan BAP, tersangka menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai seperti yang ditanyakan. "Dia kadang konek, dan kadang tidak. Dan ternyata dari informasi pak kades, keluarga dan para tetangganya Hendri ini memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Dia dulu pernah tertimpa dahan kayu dikepala hingga luka. Semenjak itu, dia sering mengeluh sakit kepala. Dan kalau kambuh dia sering ngamung mau membunuh orang,"kata kapolsek. AKP Darmawan juga membenarkan. Bahwa aksi pelaku sempat dipergoki anak perempuan korban.

"Pada saat menebas pertama dan kedua dia nengok. Dan waktu di gorok, dia lari minta bantuan warga. Dan karna kejadian itu anaknya trauma,"tutur Kapolsek Pauh.

Sementara itu Kapolres Sarolangun AKBP Ridho Hartawan melalui Kapolsek Pauh AKP Darmawan mengatakan, sejak tiba di RSJ Jambi Rabu (18/2) lalu. Hendi telah mendapat kawalan dari petugas kepolsian, yakni Polsek Pauh.

"Termasuk ketika dia jalani pemeriksaan psikiater di RSJ Jambi, terus kita kawal. Cuma kan gak ada waktu tertentu, misal mau mandi atau buang air. Dikawal petugas kita," ujarnya.

Berbeda mungkin dengan tahanan lain, pengawalannya tidak seketat Hendi. Karena palaku cukup sadis ketika membunuh istrinya sendiri Riska (37), tidak cukup membunuh saja. Dikatakannya, pasca menggorok leher istrinya pelaku menenteng kepala korban ke desa sebelah, yang berjarak sekitar 10 KM.

"Kita khawatir kalau dia (Hendi,red) lari, ganggu aktivitas di RSJ," katanya. Sehingga pihaknya mengambil langkah, terus mengawal selama pelaku menjalani pemeriksaan di sana. Ia mengatakan, selama di RSJ Jambi pun pelaku ditempatkan disel juga, dan diborgol. (dedynurdin/komarrudin)

Sumber: Tribun Jambi
Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas