Di Kabupaten Paling Kaya Ini Siswa Miskin Tak Bersepatu Masih Ada
Untuk satu ruang kelas yang disekat, guru kelas 2 dan 3 memiliki strategi mengajar secara bergantian.
Editor: Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, TENGGARONG - SDN 036 Dusun Bengkinang, Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, memiliki murid yang tidak banyak, yakni 38 orang.
Maklum, sekolah yang dulunya filial ini menampung anak-anak di Dusun Bengkinang RT 12.
Salah satu ruang kelas SDN 036 ini disekat dua karena kekurangan lokal. Ruang yang disekat ini menjadi tempat belajar murid kelas 2 dan 3.
Kelas 2 terdiri lima orang dan kelas 3 ada enam orang. Kepala SDN 036 Mardiana mengatakan, sekolah ini kekurangan ruang untuk fasilitas UKS, perpustakaan, ruang guru dan kepala sekolah.
Ruang guru dan UKS saat ini menempati bekas rumah dinas guru.
Sedangkan ruang perpustakaan menempati ruang kelas 2.
Untuk satu ruang kelas yang disekat, guru kelas 2 dan 3 memiliki strategi mengajar secara bergantian. Jika guru yang satu sedang menerangkan, maka guru lain memberikan latihan materi.
Sekolah ini memiliki 7 orang guru dan seorang pegawai tata usaha.
Seluruh guru berasal dari wilayah Tenggarong.
Mereka harus menempuh waktu setengah jam untuk mencapai sekolah paling pelosok di Loa Tebu itu.
Murid yang sekolah di sana merupakan sebagian besar anak petani.
Di tengah keterbatasan ini, mereka tetap semangat dalam belajar. Mardiana sudah mengajukan permohonan untuk pengadaan ruang ke Dinas Pendidikan.
"Rencananya, pengadaan satu ruang kelas, ruang guru dan ruang kepsek yang kita ajukan baru terealisasi pada 2016," ucapnya.
Sebelumnya, mereka tidak pernah mengenyam pendidikan di TK. Karena TK belum ada di Dusun Bengkinang.
"Jadi pengajar di sini harus ekstra keras mengajari mereka," tuturnya.
Tak jarang, guru-guru iuran sendiri untuk seragam anak-anak, sepatu hingga buku.
Maklum, sebagian besar mereka memiliki latar belakang ekonomi keluarga kurang mampu.
Beberapa murid masih dijumpai tidak mengenakan sepatu ke sekolah.
"Kami tidak bisa memaksa mereka untuk memakai sepatu, kalau kenyataannya mereka tak punya uang untuk beli sepatu," ucap Mardiana. (*)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.