Cikal Bakal Nama Kota Cirebon Ternyata Dari Dua Benda Ini
"Alu dan Lumpang, alat-alat untuk membuat terasi ini disimbolkan sebagai Lingga dan Yoni sebagaimana pria dan wanita," ujar Mustaqim.
Editor:
Wahid Nurdin
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K
TRIBUNJOGJA.COM, CIREBON - Anda barangkali sudah familiar dengan nama Cirebon, sebuah kota di Jawa Barat.
Namun masih banyak orang yang belum tahu sejarah nama Cirebon itu muncul sebagai nama kota di kawasan tersebut.
Usut punya usut, menurut keyakinan dan cerita yang beredar di masyarakat, asal muasal nama Cirebon, ternyata berasal dari dua situs benda cagar budaya yang ada di pelataran Keraton Kanoman Cirebon.
Lingga dan Yoni, dua benda yang menyerupai kelamin pria dan wanita ini ternyata adalah asal usul dinamakannya kota Cirebon.
Mustaqim, pemandu wisata Travel Heritage, Keraton Kanoman Cirebon, bercerita, Kota Cirebon merupakan kota pesisir yang sangat dekat dengan laut.
Sejak zaman dahulu sebagian besar masyarakat Cirebon berprofesi sebagai nelayan. Mereka menggantungkan hidupnya, mengambil dan mengolah hasil dari laut.
Ia menuturkan, salah satu produk yang dibuat oleh masyarakat Cirebon yang dikenal sampai sekarang adalah Terasi, produk olahan laut yang terbuat dari udang yang difermentasikan, dan digunakan untuk bumbu masakan.
"Terasi merupakan salah satu produk hasil laut, yang sudah diproduksi sejak zaman dahulu ketika Cirebon masih dalam bentuk Kerajaan pada abad ke 15," tutur Mustaqim, Jumat (2/10/2015)
Lanjutnya, Terasi ini dibuat dari bahan-bahan hasil panenan nelayan seperti ikan-ikan kecil dan udang yang sudah dibuang kepalanya.
Cara pembuatannya, campuran ikan dan udang ditambah air garam dihancurkan dengan alu dan lumpang, untuk selanjutnya difermentasikan.
Zaman dahulu, alat alu dan lumping ini menyiratkan simbol tertentu.
Seperti alu yang disimbolkan sebagai lingga atau alat kelamin pria, dan lumpang yang disimbolkan sebagai Yoni atau menyerupai alat kelamin wanita.
"Alu dan Lumpang, alat-alat untuk membuat terasi ini disimbolkan sebagai Lingga dan Yoni sebagaimana pria dan wanita," ujar Mustaqim.
Mustaqim bercerita, Alu dan Lumpang yang menyimbolkan Lingga dan Yoni ini ternyata diabadikan di pelataran Keraton Kanoman Cirebon.
Lingga, berbentuk sebagai alu, batu silinder panjang sepanjang kurang lebih satu meter diletakkan di bangunan gubuk di sebelah utara Siti Inggil Keraton Kanoman Cirebon.
Sebagai mana dengan Yoni, yang berbentuk seperti meja dengan luas satu kali satu meter, dengan lubang di tengah-tengahnya.
Lanjutnya, lingga dan yoni ini ternyata digunakan oleh masyarakat sejak zaman dahulu untuk membuat terasi.
Sedangkan asal usul nama Cirebon didapat ketika zaman dahulu masyarakat di Keraton Kanoman Cirebon membuat terasi, dari air garam (cair) dan udang (rebon).
Sampai saat itulah, daerah di Keraton Kanoman selanjutnya dinamakan Cirebon.
"Cirebon berasal dari kata Cair yang artinya air, dan rebon yang artinya udang. Karena kebiasaan, daerah tersebut, dinamakan Cirebon. Sedangkan alu dan lumping tersebut sebagai perlambangnya. Istilah tersebut yang dulu digunakan masyarakat Kanoman untuk menamakan daerahnya," tutur Mustaqim.
Bangunan lingga dan yoni telah ada sejak didirikannya Keraton Kanoman Cirebon pada tahun 1678 Masehi, oleh Sultan Anom I.
Alu dan lumpang ini masih dapat disaksikan sampai sekarang, terletak di belakang pasar Kanoman, di sebelahnya kokoh berdiri Ringin Kurung dan Siti Inggil Keraton Kanoman Cirebon.