Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kabut Asap di Riau Merenggut Nyawa Mereka

Rafka Rafanda Adinata yang masih berumur 2,5 tahun belum mengerti perihal kematian ayahnya Iqbal Ali

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in Kabut Asap di Riau Merenggut Nyawa Mereka
TRIBUN PEKANBARU/Theo Rizky
Warga dari berbagai elemen mengikuti Salat Istisqa di Halaman Mesjid Agung An Nur Pekanbaru, Senin (26/10/2015). Jemaah salat minta hujan yang dimotori oleh Polresta Pekanbaru dengan penceramah Ustad Abu Zubair tersebut beberapa diantaranya terpaksa menggunakan masker karena kabut asap yang masih menyelimuti. TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

"Banyak orang yang mengatakan anak kami berbudi. Namun dia cepat dipanggil Allah. Kami sudah rela, namun rasanya sakit sekali apabila mengenangnya. Kami hanya memohon agar jangan sampai Lutfi-Lutfi lain menjadi korban karena asap ini," ujar Lili sembari meneteskan air mata.

Anggriawati

Ada pula cerita pedih yang lain lain. Muhanum Anggriawati (12) juga meninggal karena asap.

Selama seminggu bocah perempuan itu mengalami batuk parah. Ia jatuh tak sadarkan diri saat sedang bermain.

Dokter di RSUD Arifin Achmad mengatakan, lendir menumpuk di tenggorokan dan paru-parunya. Kamis, 10 September 2015, Anggriawati menghembuskan nafas terakhir.

Mukhlis, orang tua Anggriawati, mengatakan uang santunan dari pemerintah tidak akan mengembalikan nyawa putri sulungnya.

Dia sangat berharap Presiden Joko Widodo membuat langkah nyata dalam menuntaskan masalah bencana asap pada masa mendatang.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tidak ada orangtua yang rela anaknya meninggal dunia, apalagi gara-gara asap. Kami sebagai orang tua hanya dapat meminta agar Presiden benar-benar serius. Kami berdoa agar tidak ada lagi orang tua yang merasakan duka seperti yang kami alami," kata Mukhlis.

Menurut Mukhlis, sepeningal anaknya, dia dan istrinya kerap merasakan trauma pada setiap hari Kamis. Maklum, pada hari itulah Muhanum menghadap Yang Kuasa.

"Setiap malam Kamis, istri saya selalu menangis. Setiap Kamis kami lebih banyak diam dan merenung. Kami seakan trauma hari Kamis," kata Mukhlis.(Syahnan Rangkuti)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas