Kronologis Tewasnya Sang Kurir Sugito saat Hendak Kirim Paket di Kawasan Sarinah
Karena akan mengirim paket di kawasan Sarinah, Sugito kata Sukarmin berhenti di Jalan MH Thamrin.
Editor: Dewi Agustina

TRIBUNNEWS.COM, KARAWANG - Jenazah korban tewas akibat teror bom Sarinah di kawasan Jl MH Thamrin, Sugito diterima di rumah duka Komplek Panorama Indah, Blok E2 Desa Purwasari Kecamatan Purwasari Kabupaten Karawang, Minggu (17/1/2016) sore.
Jenazah dimakamkan pada hari itu juga di TPU yang tidak terlalu jauh dari rumah duka.
Jenazah diangkut ambulans Dokkes Polda Metro dan di dalam peti jenazah nomor 002. Warga sekitar dan kerabat menyambut kedatangan Sugito dengan tangis.
Sebagian lagi menyambutnya dengan shalawat.
Keluarga almarhum Sugito mengaku tenang mendengar status Sugito yang telah dirilis Polri sebagai korban.
"Alhamdulillah, kami tenang setelah ada kepastian status saudara kami, Sugito korban bukan pelaku. Ini menunjukkan yang salah itu salah yang benar itu benar," ujar H Ily Jamili (68), saudara Sugito saat ditemui di rumah duka, Perum Panorama Indah Desa Purwasari Kecamatan Purwasari Kabupaten Karawang, Minggu (17/1/2016).
Keluarga almarhum Sugito, korban tewas dalam teror bom Sarinah menjelaskan kronologis mengapa Sugito bisa berada di Sarinah.
Sukarmin (59), kakak ipar Sugito menjelaskan bahwa Sugito bekerja di perusahaan pengiriman PT Fajar Indah Citra Cemerlang (FICC) di Jakarta Pusat, lokasinya tidak jauh dari lokasi Sarinah sebagai kurir.
"Saat kejadian, Sugito ditugaskan kantornya untuk mengirim paket di wilayah Sarinah," ujar Sukarmin di rumah duka Perum Panorama Indah, Desa Kecamatan Purwasari Kabupaten Karawang, Minggu (17/1/2016).
Sugito, kata Sukarmin berdasarkan informasi yang ia terima, berangkat dari kantornya berdua bersama salah seorang rekannya sesama kurir.
Karena akan mengirim paket di kawasan Sarinah, Sugito kata Sukarmin berhenti di Jalan MH Thamrin.
"Sedangkan temannya meneruskan perjalanan. Saat turun dari mobil, tiba-tiba ada bom di Sarinah. Sugito ini kemungkinan mencari tempat berlindung setelah ada bom," ujarnya.
Karena dekat dengan pos polisi, Sugito kata Sukarmin kemungkinan besar hendak berlindung di pos polisi. Namun ternyata pelaku teror juga membom pos polisi.
"Saat ada ledakkan di pos polisi, Sugito terkena benda tajam dari pos polisi," ujarnya.
Itu kenapa, kata dia, pihak kepolisian menetapkan Sugito sebagai korban, bukan sebagai pelaku.
"Informasi yang beredar selama beberapa hari ini menyebutkan Sugito pelaku itu menyakitkan kami. Sugito itu korban dari perbuatan teroris biadab," ujarnya seraya mengatakan polisi menemukan tas milik diduga Sugito berisi surat-surat yang harus dikirimkan.
Sugito meninggalkan istri dan tiga orang anak. Dua orang anak masih jadi tanggungan keluarga.
"Sugito ini tulang punggung keluarga, masih ada dua anak yang masih perlu dibiayai, tapi kami pihak keluarga akan membantu," ujarnya. (men)