Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

'Dikasih Harga Rp 2.000 Dapat Tiga Gorengan Saja Ada yang Protes'

Berjualan gorengan, bagi Agus merupakan usaha yang bisa menghidupi keluarganya selama ini.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in 'Dikasih Harga Rp 2.000 Dapat Tiga Gorengan Saja Ada yang Protes'
Tribun Jabar/Teuku M Guci Syaifudin
Seorang pedagang gorengan keliling, Agus (45) tengah melayani pembeli sembari menggoreng di jalan menuju Komplek Pasadena, Kelurahan Margahayu utara, Kecamatan Babakan Ciparay, Rabu (6/1/2016). Setiap harinya ia menggunakan tujuh kilogram minyak goreng curah. 

Namun Agus sebagai pengguna tak mengetahui jika peredaran minyak goreng curah bakal dihilangkan pada 27 Maret 2016.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 80 Tahun 2014 tentang pelarangan perdagangan minyak goreng sawit curah.

Ia belum pernah mendengarkan permendagri tersebut selama membeli minyak goreng curah.

"Kalau saya ada yang mengantarkan. Tidak beli ke pasar. Karena memang sudah langganan. Kalau tokonya di sekitar Pasar Caringin," ujar Agus.

Agus pun berpendapat, pemerintah harus memiliki solusi yang mendukung usaha kecil menengah (UKM) sepertinya jika peredaran minyak goreng curah dilarang.

Menurutnya, pemerintah harus mengeluarkan produk minyak goreng kemasan yang harganya terjangkau para pelaku UKM. Sebab ia merasa keberatan jika harga sama dengan minyak goreng kemasan yang ada saat ini.

"Jelas modal bertambah banyak. Sekarang kalau minyak goreng kemasan itu kan isinya 1 liter atau sekitar 0,8 kilogram. Harga minyak goreng kemasan itu Rp 13 ribu per liter. Selisihnya memang Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Tapi itu berharga sekali karena kami kan belinya tidak satu liter saja," ujar Agus.

Rekomendasi Untuk Anda

Kendati begitu, Agus hanya bisa pasrah dengan keputusan pemerintah tersebut. Menurutnya, jangan sampai keputusan tersebut justru mematikan usaha rakyat kecil. Apalagi harga kebutuhan bahan pokok saat ini tidak stabil.

"Jangan sampai rakyat kecil disikatin terus sementara yang di atas ketawa-ketawa," kata Agus. (cis)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas