Bayi Asal Maros Lahir Tanpa Anus, Orangtua Minta Bantuan Dana untuk Operasi
Bayi malang bernama Muhammad Ali lahir tanpa lubang anus pada Jumat (11/3/2016). Orangtuanya kini sedang butuh bantuan dana untuk operasi.
Editor: Y Gustaman
![Bayi Asal Maros Lahir Tanpa Anus, Orangtua Minta Bantuan Dana untuk Operasi](https://asset-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/bayi-asal-maros-tanpa-anus_20160314_222640.jpg)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe
TRIBUNNEWS.COM, MAROS - Balita malang bernama Muhammad Ali lahir tanpa lubang anus pada Jumat (11/3/2016) di rumah bersalin di Bontoa, Mandai, Kabupaten Maros.
Putra pasangan Budi (41) dan Furnaniati (30), warga BTN GMI blok D20 Bontoa, tersebut dirawat di ruang perawatan bayi RSUD Salewangang Maros. Kini pasangan tersebut sedang membutuhkan bantuan.
Furnaniati yang masih berprofesi sebagai guru honorer SD 178 Inpres Bontoa, saat ditemui di RSUD Salewangang Maros terus menangis. Dia iba melihat anak keempatnya itu.
"Anak saya ini lahir tanpa lubang anus di rumah bersalin. Tapi dia dirujuk ke sini. Saya baru tahu kalau tidak ada lubang anusnya saat berada di sini," ujar Furnaniati pada Senin (14/3/2016).
Saat dirawat di rumah bersalin, bidan yang bertugas tidak menyampaikan anaknya tersebut tidak memiliki anus. Bahkan Muhammad Ali baru dirujuk setelah menginap di rumah bersalin tersebut.
Ali lahir sekitar pukul 9.00 Wita, setelah Furnaniati mengalami rasa sakit sekitar sejam. "Tapi ternyata anak saya ini tidak ada anusnya. Saat saya di USG dulu semua sehat," imbuh dia.
Saat ini putranya buang air besar melalui mulut. Dokter telah memasang alat bantu di mulut balita tersebut.
"Dia buang air lewat mulut. Selang-selangnya dipasangkan oleh dokter. Jadi kalau ada yang masuk ke mulutnya namun dimuntahkan lagi," kata dia.
Guru honorer berpenghasilan Rp 500 ribu perbulannya itu meminta bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Maros dan masyarakat lainnya untuk biaya operasi anaknya.
Pasalnya, gajinya dan gaji suaminya yang berprofesi sebagai buruh tidak cukup membiayai operasi anaknya.
"Seharusnya dioperasi. Tapi dokter meminta saya untuk menyediakan uang Rp 30 juta sampai Rp 50 juta. Di mana mau ambil uang sebanyak itu. Suami saya gajinya Rp 50 per hari. Itupun kalau ada yang panggil angkat barang," kata Furnaniati.
Kepala Sekolah SD 178 Inpres Bontoa, Aridah Kaming, mengatakan pihak sekolah sementara mengumpulkan dana dari sesama guru di sekolahnya.
Pihaknya juga sudah datang menjenguk Furnaniati dan bayinya. Dia berharap ada orang dermawan yang mau membantu proses operasi Ali.
"Kami dari pihak sekolah juga mencarikan donasi. Kami akan berusaha maksimal untuk membantu, apalagi dia sudah honor di sekolah kami sekitar delapan tahun," katanya.
Kasubag Humas RSUD Salewangang Maros, Ummi Salma, mengatakan pihaknya akan berkonsultasi dulu ke dokter ahli bedah.
Jika dokternya tidak mampu untuk melakukan operasi maka Ali akan dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Makassar untuk segera ditindaklanjuti.
"Kami akan konsultasi ke ahli bedah dulu. Apakah bisa dikerjakan di sini atau dirujuk. Kami juga sudah pasang alat bantu pernafasan di Ali," ujarnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.