Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Lapas Mojokerto Overload, Napi Rawan Kabur

Persoalan klasik masih jadi fokus perhatian lembaga pemasyarakatan (lapas) di Mojokerto.

Lapas Mojokerto Overload, Napi Rawan Kabur
surya/sudarma adi
surya/sudarma adi Beberapa pembesuk saat datang ke Lapas Kelas IIB Mojokerto di Jl Taman Siswa Kota Mojokerto, Selasa (26/4/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, MOJOKERTO - Persoalan klasik masih jadi fokus perhatian lembaga pemasyarakatan (lapas) di Mojokerto.

Itu terlihat dengan overload-nya penghuni Lapas Kelas IIB Mojokerto yang hampir dua kali lipat dari kapasitas.

Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto, Bambang Haryanto menjelaskan, kapasitas ruang tahanan di lapas tak berimbang dengan bertambahnya jumlah tahanan yang masuk.

"Ini sudah terjadi beberapa waktu lalu," ujarnya, Selasa (26/4/2016).

Berdasarkan data di lapas, hingga saat ini jumlah penghuni lapas mencapai 653 orang, terdiri atas 250 tahanan dan 403 narapidana (napi).

Itu termasuk 10 tahanan dari anak-anak. Jumlah penghuni di lapas ini sangat tak memenuhi syarat dibandingkan kapasitas ideal lapas yang hanya 344 penghuni saja.

"Daya tampung memang melebihi batas, dan penghuni lapas ini 99 persennya dari wilayah Mojokerto," katanya.

Dengan luas lahan mencapai 7372 m2, bangunan lapas berdiri sebesar 2128 m2.

Di dalam bangunan itu, total ada 35 ruang tahanan atau penjara, terdiri atas delapan ruang tahanan besar, tiga ruang sedang dan sisanya ruang tahanan kecil.

Karena overload, maka para tahanan dan napi harus berdesak-desakan di ruang tahanan.

Seperti untuk ruang tahanan besar, seharusnya kapasitas hanya 15 orang, tapi saat ini diisi 46-49 orang. Lalu untuk ruang tahanan sedang yang idealnya diisi lima orang, malah diisi 15-20 orang.

"Begitu pula ruang tahanan kecil, di mana seharusnya hanya untuk empat tahanan, tapi diisi enam orang. Makanya, ketika malam tidur para tahanan juga bergantian," urainya.

Kondisi ini membuat proses pengawasan para tahanan dan napi jadi tak maksimal.

Pasalnya, petugas jaga yang ada di lapas hanya 20 orang. Itupun dibagi empat shift atau lima petugas per shift.

"Ini memang rawan napi kabur dan pengawasan narkoba juga tak maksimal. Untuk menyiasati agar tak terjadi keributan dengan tahanan, maka kami biasanya melakukan pendekatan secara kekeluargaan," tuturnya.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas