Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Seminar Kartini di Jogja: Wanita Harus Muncul dalam Karakter dan Sistem Politik!

Saat ini rumah hanya sekedar tempat istirahat dan bukan sebagai roh dari kehidupan mereka.

Seminar Kartini di Jogja: Wanita Harus Muncul dalam Karakter dan Sistem Politik!
IST
Para pembicara dalam seminar “REFLEKSI HARI KARTINI : MERAWAT IBU BUMI INDONESIA”, di Jogyakarta, Rabu (27/4) – dari kiri ke kanan: Fuska Sani Evani (Moderator), Dian Wisdianawati M.Si. – Ketua Granita, Dra. Sri Sumijati M.Si (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang), Umilia Rokhani S.S, MA (Dosen ISI Yogyakarta ) dan DR. Hastanti Widhy Nugroho M.Hum (Dosen Fakultas Filasafat Universitas Gajah Mada, Jogyakarta). 

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Kegalauan dan kekacauan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terjadi karena Indonesia mempraktikkan sistem nilai politik maskulin (kekuasaan).

Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi bangsa yang tidak berkarakter, egois, autis, tak terawat, tak terpelihara, tak memiliki rasa peduli dan tumbuh dalam mindset persaingan.

Oleh karenanya, untuk dapat menjadikan Indonesia sebagai Rumah Bersama, adalah penting menggantikan sistem nilai politik maskulin menjadi sistem nilai politik feminis (reproduksi).

BACA JUGA: Seminar di Jogja: Menyatukan Penggalan Puzzle Warisan Ibu Kita Kartini

Demikian kesimpulan dari seminar di Yogyakarta, Rabu (27/4/2016), “Refleksi Hari Kartini: MERAWAT IBU BUMI INDONESIA”, yang menghadirkan sebagai pembicara Dian Wisdianawati MSi – Ketua Granita, Dra Sri Sumijati MSi (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang).

Selain itu ada juga Umilia Rokhani SS MA (Dosen ISI Yogyakarta ) dan DR Hastanti Widhy Nugroho MHum (Dosen Fakultas Filasafat Universitas Gajah Mada, Yogyakarta).

Seminar yang dipandu Fuska Sani Evani (wartawan), diselenggarakan oleh Lembaga Laboratorium Bahasa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI), Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dan Gerakan Wanita Nusantara (Granita).

Oleh Sri Sumijati dikatakan, jika dilihat dari karakter mahasiswa sekarang, para pemimpin bangsa seharusnya merasa prihatin.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukannya, para mahasiswa dirasa kurang memiliki sopan santun tidak hanya dalam komunikasi tetapi juga berprilaku.

Bukan hanya itu, kecenderungan lain seperti bersifat hedonis, menginginkan segala sesuatunya serba instan dan asyik dengan dirinya sendiri juga terekam jelas.

“Perilaku para mahasiswa sekarang mirip anak autis yang mengedepankan sifat egois dan asyik dengan dirinya sendiri. Tidak ada alat bermain yang diminati para mahasiswa kecuali gadget."

"Mereka sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan dunia di luar mereka. Untuk membaca pun mereka sulit sekali. Untuk mengatasi ketimpangan ini, seharusnya bapak dan ibu harus terlibat dalam dunia mereka,” ujar Sri Sumijati dalam rilis yang masuk ke redaksi Tribunnews.com.

Namun demikian, Dian Wisdianawati mengatakan bahwa keterlibatan yang harmoni antara bapak dan ibu pada jaman sekarang sangat sulit dilakukan.

Anak-anak zaman sekarang sulit mencari figur ayah atau ibu di dalam rumah mereka.

Halaman
123
Editor: Robertus Rimawan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas