Tribun

Diduga Tukang Teluh, Kepala Juragan Kambing Nyaris Putus

Kepala tukang arit rumput nyaris putus usai ditebas tetangganya.

Editor: Y Gustaman
zoom-in Diduga Tukang Teluh, Kepala Juragan Kambing Nyaris Putus
Surya/Sri Wahyunik
Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Sabtu (3/9/2016). SURYA/SRI WAHYUNIK 

Laporan Wartawan Surya, Sri Wahyunik

SURYA.CO.ID, MALANG - Peristiwa berdarah mengoyak kedamaian pagi Dusun Krajan, Desa Pringgondani, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang pada Sabtu (3/9/2016).

Kepala Munarah hampir lepas dari batang lehernya usai ditebas Agus, tetangga rumahnya. Pelaku menyerahkan diri ke Polsek Bantur dan kini mendekam di sel tahanan Polres Malang, Jawa Timur. Munarah tewas seketika.

Agus kalap berbuat demikian setelah permintaannya tak dipenuhi pria renta berusia 80 tahun itu. Diduga munarah enggan menyembuhkan sakit yang diderita Muksin (70), ayah Agus.

Menurut keterangan polisi, Munarahlah orang yang bertanggungjawab membuat ayah Agus menderita stroke selama lima tahun terakhir.

Agus mencegat Munarah pada Sabtu pukul 08.30 WIB, ketika laki-laki renta itu baru pulang mencari rumput dan belum menginjakkan kakinya di rumah.

Di tengah jalan, Agus terlibat pembicaraan dengan Munarah yang sedang menggendong rumput untuk makan kambingnya. Beredar kabar Munarah telah meneluh Muksin.

Munarah mengelak tuduhan itu. Agus marah. Laki-laki itu menuntaskan balas penderitaan sang ayah sambil mengayunkan parang ke leher Munarah.

Di bawah ancaman, Munarah mengaku sebagai tukang teluh. Ia mendesak Munarah menyembuhkan penyakit stroke Muksin. Munarah tidak langsung menyanggupinya dan meminta waktu.

"Tapi kemudian dibacok dari belakang. Awalnya mengenai telinga kiri. Sabetan kedua mengenai leher belakang," ujar Kanit Binmas Polsek Bantur Aiptu Dwi Bambang saat mengantarkan jenazah Munarah ke Kamar Mayat Rumah Sakit Saiful Anwar.

Setelah rubuh ke tanah dan bersimbah darah, Agus melenggang menjauhi jasad Munarah dan menuju ke Polsek Bantur untuk menyerahkan diri.

Warga sekitar kaget melihat peristiwa itu. Jenazah Munarah dibawa ke kamar mayat, setelah proses identifikasi dan olah tempat kejadian perkara selesai.

Kerabat yang ikut mengantar jenazah Munarah ke kamar mayat enggan memberikan keterangan.

Seorang warga yang ikut dalam rombongan pengantar, namun enggan menyebut namanya, menuturkan jika Munarah dikenal sebagai laki-laki pendiam.

"Kerjanya ya mengarit itu, setiap hari mengarit karena kambingnya banyak. Dia dikenal sebagai laki-laki pendiam. Kalau disebut dukun santet, bagaimana membuktikannya," ujar laki-laki tersebut kepada Surya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas