Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Laporan Masyarakat untuk Kombes Franky Cukup Bukti

Laporan masyarakat terhadap Direktur Reserse Narkoba Polda Bali, Kombes Franky Haryanto Parapat, sudah cukup bukti. Ia diduga memeras pengguna narkoba

Laporan Masyarakat untuk Kombes Franky Cukup Bukti
Net
Topi polisi. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Made Ardhiangga

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Laporan masyarakat terhadap Direktur Reserse Narkoba Polda Bali, Kombes Franky Haryanto Parapat, sudah cukup bukti.

"Sampai saat ini masih berlangsung pemeriksaannya (Franky, red). Yang perlu ditegaskan, laporan itu masih didalami dan cukup bukti," ujar Kepala Biro Pengamanan Internal Mabes Polri, Brigjen Anton Wahono, kepada wartawan di Polda Bali, Denpasar, Rabu (21/9/2016).

Anton hanya menyebutkan laporan dari masyarakat menyatakan Kombes Franky meyalahgunakan wewenang, etika kelembagaan dan kemasyarakatan. Ia tak membeberkan apakah di laporan tersebut Franky dituding memeras pengguna narkoba.

"Untuk operasi tangkap tangan kami tidak pernah melakukannya. Kami masih melakukan pendalaman informasi yang diterima," tegas Anton.

Tim Paminal Mabes Polri memastikan tak akan menutupi kesalahan anggota. Jika terbukti salah dan melanggar aturan, anggota harus mempertanggungjawabkannya secara hukum.

"Jadi dalam satu laporan harus ada dua alat bukti. Nah itu yang harus kami lakukan, pembuktian itu. ‎Karena masih memproses, harus bersabar," ia menambahkan.

Ia memastikan tim tak bisa mengungkap lagi proses penyelidikan terhadap Franky karena bersifat rahasia. Ia menegaskan tak pernah ada operasi tangkap tangan terhadap Franky.

"Mengenai status (sebagai terperiksa atau tersangka) kami tidak bisa menyebut. Ada yang berwenang menyampaikan hal itu. Kami bersifat memeriksa dan menyelidiki," beber dia.

Franky diduga memeras sejumlah tersangka tujuh kasus narkoba di bawah 0.5 gram. Rata-rata mereka dimintai Rp 100 juta dan satu kasus tersangka warga negara Belanda diminta satu unit mobil Fortuner tahun 2016.

Selain memeras uang dari pengguna narkoba, Franky diduga terlibat pemotongan anggaran DIPA 2016 dengan barang bukti uang Rp 50 juta di brankas bendahara satuan.

Informasi yang beredar, Paminal Mabes Polri mengamankan dan menyita rekaman Franky pada 17 Agustus 2016 kepada anggota yang isinya memerintahkan anggota untuk kongkalikong kasus narkoba yang barang buktinya di bawah satu gram.

Ikuti kami di
Penulis: I Made Ardhiangga
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Bali
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas