Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Diminta Polisi Gandakan Uang 5.000 Jadi 1 Miliar, Ini yang Dilakukan Dimas Kanjeng

"Taat, ini uangku Rp 5.000, gandakan jadi Rp 1 miliar," goda penyidik sembari menyodorkan uang. Lalu ini yang dilakukan Dimas.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Rendy Sadikin
zoom-in Diminta Polisi Gandakan Uang 5.000 Jadi 1 Miliar, Ini yang Dilakukan Dimas Kanjeng
Surya/Ahmad Zaimul Haq
MENJALANI PEMERIKSAAN - Dimas Kanjeng Taat Pribadi berjalan menuju ruang pemeriksaan di Subdit I Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Jawa Timur, Surabaya, Rabu (28/9/2016). SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ 

Mereka bertahan karena ada keyakinan yang ditangkap penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim bukan Taat Pribadi, tapi jelmaannya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji, menegaskan bertahannya korban penggandaan uang menjadi problem sosial tersendiri di Probolinggo.

"Mereka kebanyakan berasal dari luar Jatim dan ada juga dari Makassar yang nilainya mencapai puluhan miliar," ujarnya beberapa waktu lalu.

Forpimda Jatim, kata kapolda akan membicarakan dampak sosial ini, mengingat ada yang dipakai makan di warung cuma tinggal Rp 2.000.

Sesuai rencana, Forpimda berencana menggelar pertemuan untuk membahas penanganan anak buah atau korban penggandaan uang Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

"Kami sudah perintahkan Kapolres Probolinggo agar menggelar pertemuan dengan Forpimda setempat. Nanti sore saya juga akan bertemu Gubernur Jatim dan Pangdam untuk membicarakan korban Taat Pribadi," jelas Anton.

Apakah ajaran yang diajarkan Taat Pribadi di padepokan masuk kategori sesat?

Rekomendasi Untuk Anda

Anton mengaku belum bisa memastikan itu.

Ia sudah koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Probolinggo dan Jatim untuk menentukan sesat atau tidaknya.

"Yang perlu ditegaskan, pakai logika saja ya. Mana bisa uang digandakan, bagaimana nomor serinya," tegasnya.
Hingga kini, penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim terus mendalami pembunuhan dua sultan (pengepul uang), Ismail Hidayat dan Abdul Gani.

Mayat Ismail ditemukan di dekat sebuah hutan di Tegal Siwalan, Probolinggo. Kondisi kedalaman makam hanya 1 meter hingga dieker-eker anjing kemudian ditemukan warga sekitar.

Sementara mayat Abdul Gani, juragan batu mulia di Probolinggo ditemukan di bawah jembatan sungai di Wonogiri. Abdul

Gani dibantai anak buah Taat Pribadi di padepokan karena sebagai saksi kunci seorang profesor yang melapor ke Mabes Polri atas kasus penipuan.

Ketika disinggung terkait penipuan dengan modus penggandaan uang, kapolda mengaku akan mengembangkan. Termasuk dugaan uang yang disimpan pada seseorang di Jakarta senilai Rp 1 triliun.

"Sekarang fokus pada pembunuhan dulu. Dugaan penipuan masih dikembangkan," tutur Irjen Anton Setiadji.

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas