Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Rencananya Mau Demo 2 Desember, Petani Kentang Dieng Mengurungkan, Ini Alasannya

Asosiasi Petani Kentang Dieng semula akan menggelar unjukrasa atau demonstrasi hari Jumat 2 Desember 2016.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sugiyarto
zoom-in Rencananya Mau Demo 2 Desember, Petani Kentang Dieng Mengurungkan, Ini Alasannya
SATUJAM.COM
Petani kentang melakukan pemanenan di lahan. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUNNEWS.COM, WONOSOBO - Asosiasi Petani Kentang Dieng semula akan menggelar unjukrasa atau demonstrasi hari Jumat 2 Desember 2016.

Namun karena suatu hal, maka demo akan ditunda 8 Desember dengan melibatkan sekitar 300 petani dari gabungan kelompok tani se-Wonosobo.

"Aksi ini sudah terencana lebih dari 3 bulan yang lalu. Rencananya akan dilaksanakan 2 Desember 2016. Tapi kaitannya dengan aksi Unjuk Rasa 212, kami memutuskan menunda karena kami tidak ingin dikira ditunggangi kepentingan lain," kata Sekretaris Gapoktan Al Faroq yang juga koordinator aksi, Mudhofi, Minggu (27/11).

Mudhofi mengatakan, aksi mereka ke Jakarta ini murni memperjuangkan nasib petani dengan menuntut pemerintah agar menghentikan impor kentang sayur.

"Tujuan kami adalah ke DPR-RI, Kementerian Perdagangan dan Kementrian Ketahanan Pangan. Ada sekitar 300 orang dari Dieng dan Batur. Angka ini mungkin akan bertambah lebih banyak," katanya.

Sementara Yahya, petani kentang asal Kejajar menilai, kebijakan impor pemerintah selama ini cenderung mengabaikan perlindungan terhadap petani dalam negeri.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat terjadi kelangkaan yang berimbas pada mahalnya harga sayuran, kata Yahya, pemerintah bereaksi cepat untuk menstabilkan harga dengan membuka keran impor lebar-lebar.

Namun, ironisnya, menurut Yahya, pada saat stok dalam negeri melimpah dan harga sayuran murah, pemerintah terkesan diam dan enggan berupaya menstabilkan harga.

"Kami melihat gak ada langkah-langkah konkret untuk menstabilkan harga saat harga di petani jatuh,"katanya

Yahya merasakan betul dampak kebijakan impor yang dinilainya tak berpihak kepada petani itu mulai tahun 2012.

Ia merasa kesulitan mendapatkan tengkulak yang mau membeli kentang petani dengan harga yang pantas.

Para tengkulak, kata Yahya, lebih memilih membeli kentang impor yang harganya lebih murah dari harga petani.

"Mulai impor masuk, tengkulak jarang mengambil ke petani. Impor ini kan soal kebijakan, pemerintah seharusnya bisa menutup impor kalau pasokan dalam negeri cukup, sehingga petani tak merugi,"katanya

Saat harga terendah, sekitar 4 ribu perkilogram, menurut Yahya, petani biasanya memilih menimbun kentang sampai harga berangsur normal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas