Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Sepekan, Dua Warga Bangka Tewas Diterkam Buaya

Setiap tahun selalu saja ada warga yang dilaporkan diterkam buaya di sungai-sungai yang ada di pulau timah ini

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Sepekan, Dua Warga Bangka Tewas Diterkam Buaya
The Guardian/AAP/Alan Porritt
Ilustrasi buaya 

TRIBUNNEWS.COM, BANGKA  - Dalam tempo hanya sepekan diawal tahun 2017 ini sudah tiga orang warga dilaporkan diterkam buaya.

Satu korban selamat dengan cara mencolok mata buaya, sementara dua korban lainnya tewas akibat serangan buaya.

Korban tewas serangan buaya yang pertama bernama Masda (20) pemuda yang berprofesi sebagi penambang timah.

Pemuda malang ini tewas diterkam buaya di sungai Aek Sengok, Desa Telak, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Senin (2/1/2/2017) malam.

Nyawa Masda tudak terselamatkan setelah reptil buas tersebut menyeretnya hingga ke dasar sungai Aek Sengok.

Saat ditemukan, bujangan 20 tahun itu telah merenggang nyawa di dasar sungai.

Kemudian, Kamis (5/1/2017) Ardiansyah, warga Kampung Padang, Kecamatan Toboali digigit buaya laut di perairan Kelurahan Tanjung Ketapang saat sedang menjaring udang.

Rekomendasi Untuk Anda

Selang sehari kemudian pada hari Jumat (6/1/2017) Ngalimun (60), warga Dusun Mempunai, Desa Serdang Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan tewas akibat terkaman buaya di perairan dusun Mempunai, Jumat (6/1/2017) sekitar pukul 06.00 WIB.

Ngalimun saat itu sedang mencari udang di bibir pantai dusun Mempunai, ia diseret buaya yang memiliki ukuran, kurang lebih tiga meter.

Berbicara mengenai keberadaan buaya di Sungai-sungai besar yang ada di Pulau Bangka bukanlah suatu hal yang asing lagi.

Setiap tahun selalu saja ada warga yang dilaporkan diterkam buaya di sungai-sungai yang ada di pulau timah ini.

Ada mitos unik mengenai keberadaan mahluk ganas ini, misalnya di Sungai Mendo Kecamatan Petaling ada mitos mengenai Bujang Antan mahluk gaib berbentuk buaya yang menguasai sungai itu.

Di aliran Sungai Baturusa ada kepercayaan masyarakat sejak dulu sungai itu dikuasai buaya gaib bernama Raden Kuning dan Raden Hitam.

Terlepas dari rusaknya alam dan semakin berkurangnya mangsa buaya sehingga memilih memangsa manusia, sebagian masyarakat Bangka percaya buaya tidak akan mengganggu manusia kecuali sang manusia itu melanggar pantangan yang ada, salah satunya disebut kepunan.

Untuk kepunan ini secara umum adalah orang yang ditawari sesuatu makanan atau minuman tetapi menolak mencicipinya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas