Peredaran Pupuk Palsu Bikin Petani Ketar-ketir, Tak Tahu Mana Asli
Ddampak peredaran pupuk palsu di Jawa Barat sampai dialami petani di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Utara.
Editor: Y Gustaman
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Muhammad Arfan
TRIBUNNEWS.COM, TANJUNG SELOR - Terungkapnya jaringan peredaran pupuk palsu di Jawa Barat memberi dampak psikologis bagi kalangan petani.
Saini misalnya. Petani Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ini khawatir pupuk palsu justru sudah sampai beredar di Kalimantan, khususnya di Bulungan.
"Terus terang saya baru dapat informasi ini. Kami selaku petani sangat khawatir," ujar Saini saat disua di rumahnya, Jalan Sabanar Lama, Tanjung Selor, Sabtu (25/2/2017).
Selama masa tanam, Saini menggunakan pupuk jenis urea dan TSP, NPK Phonska, dan KCL. Urea digunakan saat tanaman padi berumur 20 sampai 40 hari.
"Setelah itu dikasih TSP, Phonska. Nanti kalau sudah mau bunting, dikasih KCL," ujar dia.
Menurut Saini, Dinas Pertanian daerah harus mengawasi peredaran pupuk yang selama ini dipakai oleh petani.
Tidak kalah penting Dinas Pertanian daerah baik kabupaten maupun provinsi harus bisa menyosialisasikan mana pupuk asli dan mana terindikasi palsu.
"Jujur, kami tidak tahu bedanya yang asli sama yang palsu bagaimana. Apakah ada logo SNI atau tidak ada. Bagaimana fisik pupuknya yang palsu itu," tutur dia.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.