Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mantan Teroris Berikrar Setelah Merenung Kisah Perjuangan Sang Ayah Lawan Kompeni

"Untum meyakinkan, saya pernah diajak pahlawan di pinggir jalan persawahan Gumantuk saya menyaksikan Bapak menangis ingat peristiwa itu,"

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Mantan Teroris Berikrar Setelah Merenung Kisah Perjuangan Sang Ayah Lawan Kompeni
SURYA/HANIF MANSHURI
Anggota YLP, para mantan napiter dan kombatan ketika mengucapkan ikrar kesetiaan untuk NKRI di hadapan BNPT, saat acara peresmian sarana ibadah dan pendidikan di Tenggulun Solokuro, Lamongan, Jumat (21/7/2017) 

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN - Ternyata ada hal mendasar yang mendorong mantan kombatan dan teroris menyatakan ikrar setia terhadap NKRI dan siap berjuang melawan teroris.

Demikian juga dengan yang dilakukan Ali Fauzi dan para anggota Yayasan Lingkar Perdamaian (LP), Jumat (21/7/2017).

Usai ikrar menyatakan ikrar di depan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT), Ketua Yayasan LP, Ali Fauzi akhirnya mau menceritakan tentang alasan mendasar ia dan anggotanya mengucapkan ikrar.

"Saya mau ikrar setelah perenungan tentang kisah perjuangan Bapak saya," ujarnya, Sabtu (22/7/2017).

Menurutnya, bapaknya H Nor Hasyim merupakan seorang pejuang.

Yakni, berjuang berperang melawan serdadu kompeni Belanda untuk kemerdekaan Indonesia di wilayah Gumantuk, Lamongan.

Semasa revolusi fisik tersebut, Nor Hasyim punya nama gerilya, Nor Aini Mashuri.

Rekomendasi Untuk Anda

Dia bercerita kepada Ali Fauzi, bahwa pernah tiga hari tiga malam berjuang secara gerilya, dengan perang di rawa-rawa.

Kala itu banyak kawan seperjuangan bapaknya yang gugur.

"Untuk meyakinkan, saya pernah diajak pahlawan di pinggir jalan persawahan Gumantuk saya menyaksikan Bapak menangis ingat peristiwa itu," ungkapnya.

Dibalik cerita perjuangan, orangtuanya yang sudah meninggalkan dunia ini juga selalu menyelipkan pesan-pesan agama.

Sepanjang cerita, Ali Fauzi mengaku tidak pernah sekalipun membantah atau menolak argumennya.

Banyak pertimbangan rasional dan batin yang sampai dirinya sadar mundur dari medan tempur di Mindanau Filipina, Poso serta mundur sebagai seorang teroris.

Dorongan kuat untuk mendapat kepercayaan dari negara dan masyarakat bahwa apa yang dilakukan LP bukan kamuflase dan sandiwara.

"Saya dan teman-teman murni niat ikhlas ingin menjadi manusia yang lebih baik," ucap adik trio Bomber Bali, Mukhlas, Ali Imron, dan Amrozi ini.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas