Peserta Pengelukatan Massal Membeludak, Enam Orang Pingsan
Terik matahari dan membeludaknya peserta menyebabkan sejumlah umat kelelahan dan kehabisan napas hingga akhirnya pingsan.
Editor:
Dewi Agustina
"Sebelum ke sini anak saya sudah sarapan, karena keadaan seperti itu makanya tumbang," terangnya.
Karena kondisinya yang drop, dua orang terpaksa dibawa ke BRSUD Tabanan dengan menggunakan ambulans. Mereka adalah Kadek Yuliani dan Made Lilis Vilianti.
Kakak Made Lilis Vilianti, Aditya Krisna, mengatakan saat siang adiknya sudah makan.
Namun Lilis tidak kuat menahan panas dan berdesakan dengan ribuan orang sehingga tumbang.
"Tadi sudah makan siang," ujarnya yang berada di sebelah Made Lilis.
Seorang peserta, Wayan Subrata, mengkritisi panitia yang kurang memperhitungkan situasi dan kondisi.
Ia menyebut harusnya panitia menyiapkan tempat lebih luas mengingat banyaknya peserta.
Tempat nunas tirta pengelukatan juga harus ditambah sehingga tidak perlu menimbulkan antrean panjang.
"Harusnya lokasi lebih luas. Saya saja masih nunggu agar peserta lebih sepi. Sejak pukul 07.00 Wita sudah di sini," ujar warga asal Banjar Kebon, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, ini.
Peserta lain, Ni Luh Ayu Putu Dewi Rahmawanti (30), mengaku sejak pukul 06.00 Wita telah tibadi Pura Luhur Pakendungan untuk mengikuti prosesi ritual melukat.
Acara baru selesai sekitar pukul 13.00 Wita.
"Antreannya lama, berdesak-desakan. Jika bisa, nanti panitia acara ini mencari tempat lebih luas," paparnya.
Sekretaris Kabupaten Tabanan, I Nyoman Wirna Ariwangsa, tidak menyangka antusias masyarakat terhadap acara melukat Sapuh Leger dan Mebayuh Oton massal sangat tinggi.
Ia memperkirakan 15 ribu orang mengikuti pengelukatan massal sehari jelang Tumpek Wayang ini.
"Perkiraan panitia tidak sampai segitu. Makanya panitia menyiapkan nomor antrean sekitar enam ribu saja. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami," ujarnya.
Terkait warga yang pingsan dan harus mendapatkan perawatan di BRSUD Tabanan, panitia acara akan menanggung biaya pengobatan.
Baca tanpa iklan