Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Warga Desa Adat Mambal Kelodan Gerak Jalan Sambil Memungut Sampah

Sedikitnya 1000 warga Desa Adat Mambal Kelodan membawa kantong plastik, berjalan kaki melintasi seluruh pinggiran desa untuk memungut sampah.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Warga Desa Adat Mambal Kelodan Gerak Jalan Sambil Memungut Sampah
Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Sedikitnya 1000 warga Desa Adat Mambal Kelodan membawa kantong plastik, berjalan kaki melintasi seluruh pinggiran desa untuk memungut sampah. TRIBUN BALI/I MADE ARDHIANGGA 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Made Ardhiangga

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Sedikitnya 1000 warga Desa Adat Mambal Kelodan membawa kantong plastik, berjalan kaki melintasi seluruh pinggiran desa untuk memungut sampah.

Bertepartan dengan peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia ini, bisa jadi menjadi sesuatu yang berbeda. Sebab, warga Desa Adat Mambal Kelodan melakukan gerak jalan sembari memungut sampah.

Biasanya, warga desa akan sibuk dalam prosesi upacara untuk memperingati hari kemerdekaan.

Tokoh Masyarakat Desa Mambal Kelodan, Ida Bagus Pada Kusuma‎ menyatakan, pemungutan sampah menjadi bagian dari semangat warganya untuk mencintai tanah airnya.

72 tahun merdeka, sampah-sampah masih saja menjadi persoalan di berbagai penjuru Indonesia. Karena itu, Desa Mambal yang dahulunya memang menjadi sentral perjuangan Ciung Wanara, memberikan sebuah perbedaan dalam wujud nyata semangat nasionalisme.

"Selain upacara bendera. Wujud kecintaan dan nasionalisme itu adalah menjaga alam atau lingkungan. Ya, contohnya dengan melakukan pemungutan sampah ini," kata Ida bagus Pada Kusuma, Kamis (17/8/2017) kepada Tribun Bali.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengaku, dalam skala luas, Desa Mambal disamping sebagai basis pejuang ingin menularkan kepada generasi muda, bagaimana kebanggan pada NKRI dan motivasi serta harapan masyarakat memberi dalam perjuangan kemerdekaan.

"Karena mayoritas warga Desa Adat Mabal Hindu, maka konsepsi Tri Hita Karana harus dijunjung tinggi. Itu wujud cinta kami kepada NKRI," tegas Anggota DPRD Provinsi Bali Komisi III‎ itu.‎

Tokoh masyarakat lainnya,‎ Made Ponda Wirawan‎ ‎menyatakan, selain sikap cinta pada alam, krama (warga) adat juga ingin menyerukan semangat menolak paham, di luar Pancasila. Seperti paham radikalisme atau terorisme yang kini santer diberitakan.

Warga Desa Adat Mambal Kelodan Punguti Sampah_1
Sedikitnya 1000 warga Desa Adat Mambal Kelodan membawa kantong plastik, berjalan kaki melintasi seluruh pinggiran desa untuk memungut sampah. TRIBUN BALI/I MADE ARDHIANGGA

Karena itu, penekan kecintaan pada desa sendiri dengan pemuda menjaga memelihara dan merawat desanya, adalah hal terpenting. Contohnya saja, menjaga adat istiadat jangan sampai terkontaminasi dengan tantangan globalisasi saat ini.

"Adat istiadat adalah pilar nasionalisme. Dan adat istiadat memang fleksibel dalam semangat Bhineka Tunggal Ika (Keberagaman). dan hukum adat kami adalah menjaga toleransi antar semuanya. Itulah semangat kami dalam menjaga tanah leluhur dan semangat perjuangan para pejuang," jelas Anggota DPRD Kabupaten Badung itu.

Sekitar 1000 orang warga Desa Adat Mambal Kelodan, Abiansemal, Badung, Bali melakukan jalan sehat dengan membersihkan sampah di lapangan desa adat Mambal Kelodan.

Warga berkumpul sedari pukul 07.00 Wita, dan dilepas oleh Ida Bagus Pada Kusuma.

Warga cukup antusias membawa kantong plastik hitam untuk memunguti sampah-sampah di wilayah desa adatnya. Dari anak-anak, hingga orang tua, tumpah ruah dan penuh semangat menyambut Kemerdekaan ke-72 RI, kali ini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas