Ulama Jatim Sambut Positif Upaya PDIP Perkuat Hubungan dengan Nahdliyin
PDI Perjuangan terus menguatkan hubungan dengan ulama NU dan Nahdliyin
Editor:
Rachmat Hidayat
TRIBUNNEWS.COM, MALANG-PDI Perjuangan terus menguatkan hubungan dengan ulama NU dan Nahdliyin. Hal itu sekaligus meneruskan tradisi hubungan baik para tokoh pendiri bangsa, yang selalu bersinergi dan beriringan antara tokoh kebangsaan dan tokoh agama, khususnya Islam dengan tokoh kebangsaan atau nasionalis.
Hal ini disampaikan Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah, saat bertemu dengan pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang, KH Marzuki Mustamar, Sabtu (9/9/2017).
Apa yang dilakukan PDI Perjuangan itu mendapat apresiasi dan sambutan positif dari para Kiai NU yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan itu, hadir sejumlah kiai dan ulama dari Malang Raya. Sementara Basarah didampingi Sekjen Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Falah Amru, Ketua DPP Bamusi Nu'man Bashori dan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Sri Untari.
Dihadapan para Kiai NU, Basarah menyampaikan, dirinya diutus khusus oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersilaturahmi dan sowan ke para ulama dan kiai untuk menyampaikan beberapa hal strategis dan penting.
Mengenai kebangsaan yang ketika merujuk sejarah, lanjut Basarah, perjuangan sebelum kemerdekaan ada kebersamaan yang begitu kuat antara golongan kebangsaan dan Islam
"Ibu Megawati meminta saya untuk sampaikan, bahwa pada saat HUT Kemerdekaan tahun 1966, Pidato Bung Karno yang sangat terkenal judulnya Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dan di kalangan Nahdliyin sekarang ada tagline Jas Hijau, jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama," kata Basarah.
Basarah mengatakan, kader PDI Perjuangan selalu diingatkan untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa, saat merebut kemerdekaan, dimana NU dan PNI seperti adik kakak.
Basarah merujuk lahirnya NU tahun 1926, kemudian setahun berikutnya yakni 1927 Bung Karno mendirikan PNI. Setahun setelah itu, yakni tahun 1928 lahir lah Sumpah Pemuda, yang menjadi cikal bakal lahirnya Indonesia. "Jas Merah dan Jas Hijau harus jadi tagline untuk kebersamaan," tegasnya.
Melihat pentingnya sinergi nasionalis-Islam, khususnya PDI Perjuangan dan Nahdliyin, lanjut Basarah, Megawati mengajak masyarakat.
Khususnya Nahdliyin untuk berpijak dan menguatkan sejarah yang diwariskan Bung Karno dan KH Hasyim As'ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Wahab Chasbullah, KH Ahmad Dahlan, serta tokoh dan ulama lain yang selalu bergandengan dalam soal kebangsaan.
"Kalau sudah ormas besar di Republik ini yaitu NU, dan PDI Perjuangan sebagai partai besar di republik ini, bersinergi, tidak hanya bisa mengusir segala ancaman, tetapi akan bisa melakukan hal baik yang luar biasa," tandasnya.
Karena itulah, dalam kesempatan itu kepada sejumlah kiai, Basarah mengajak agar sekiranya ada santri yang hendak masuk politik untuk bergabung dengan PDI Perjuangan.
"NU dilahirkan untuk bangsa, kami mengajak, monggo warga NU yang mau menugaskan santrinya, menjaga dan mengawal PDI Perjuangan. Kami ada Bamusi, kami bermimpi banyak kader kita di DPRD adalah kader-kader NU," terangnya.
Kemudian, terkait dengan Pilkada Jatim, lanjut Basarah, Megawati menugaskan dirinya untuk menanyakan kepada para kiai siapa sosok yang mewakili perasaan dan cermin dari harapan warga Nahdliyin.
Baca tanpa iklan