Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bikin Miris, Pasutri Ini Bawa Mayat Anaknya Naik Angkot

Mereka memilih naik angkot karena tidak mampu menyedikan uang Rp 2 juta untuk memakai fasilitas ambulan pengangkut jenazah rumah sakit

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Bikin Miris, Pasutri Ini Bawa Mayat Anaknya Naik Angkot
Wartakota
Ilustrasi mayat bayi 

Laporan Wartawan Tribun Lampung Wakos Gautama

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG  - Didampingi sang suami, Ardian, Deva menitikkan airmata di dalam mobil angkutan kota (angkot) jurusan Rajabasa-Tanjungkarang, Rabu (20/9/2017) sore.

Deva tak kuasa menahan sedih melihat Berlin Istana, anaknya yang masih berusia satu bulan meninggal dunia.

Berlin meninggal dunia setelah beberapa hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM), Rabu sore.

Berlin harus mendapat perawatan usai operasi ketika baru dilahirkan.

Menurut Aang Fatiya Gunanda (28), adik sepupu Deva, Berlin ada benjolan kelenjar di kepala Berlin ketika dilahirkan.

Baca: Ada Ambulance Motor di Jalur Mudik untuk Menembus Kemacetan Bila Ada Pemudik yang Sakit

Rekomendasi Untuk Anda

Berlin lalu dirujuk ke Rumah Sakit Ryacudu, Kotabumi, Lampung Utara.

Pihak Rumah Sakit Ryacudu lalu merujuk lagi Berlin ke RSUAM.

Pihak RSUAM lalu mengambil tindaka operasi. setelah satu minggu menjalani perawatan usai operasi, Berlin diperbolehkan pulang.

Pihak RSUAM  mewajibkan Berlin kontrol pascaoperasi. pada saat kontrol inilah, nyawa Berlin tidak bisa diselamatkan.

Baca: Mobil Barisan Pemadam Kebakaran Nyaris Terguling saat Padamkan Api di Pelambuan

 Tak hanya sedih, rasa kecewa dan amarah juga menyelimuti hati Deva dan Adrian.

Penyebabnya pihak RSUAM menolak mengangkut Berlin, sang anak, menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Desa Labuhan Dalam, Kecamatan Abung Timur, Lampung Utara.

"Alasan rumah sakit, Deva tidak bisa menggunakan BPJS untuk mendapatkan fasilitas mobil ambulans gratis untuk mengangkut jenazah Berlin," kata Aang saat dihubungi Tribun Lampung, Rabu malam.

Fasilitas ambulans itu bisa digunakan melalui jalur umum dan konsekuensi ada biaya yang harus dibayar.

Menurut Aang, Deva diminta uang Rp 2 juta untuk memakai fasilitas ambulans pengangkut jenazah.

 Deva dan suami tidak punya uang bahkan, Deva sudah memohon-mohon agar diberikan sedikit kelonggaran supaya jenazah anaknya bisa dibawa dengan layak namun itu tetap tidak digubris pihak rumah sakit.

Deva dan Adrian akhirnya memutuskan membawa jenazah sang anak dengan menaiki mobil angkot.

Mereka naik angkot jurusan Rajabasa-Tanjungkarang yang melintas di depan RSUAM tujuannya ke bundaran Hajimena.

 Sepanjang perjalanan di dalam angkot, Deva tak hentinya sesengukan.

ini membuat sopir angkot dan beberapa penumpang lainnya iba.

Baca: Polisi Tangkap Sopir Angkot Pemerkosa Anak di Bandung

Begitu tiba di bundaran Hajimena, sopir angkot memberhentikan kendaraannya.

Kasihan melihat kondisi Deva dan Adrian, sopir angkot dan beberapa warga berupaya menolong.

Mereka tidak tega melihat seorang ibu membawa anaknya yang meninggal dunia menggunakan angkutan umum.

"Ada ibu-ibu yang berinisiatif menelepon call center ambulans gratis milik Pemerintah Kota Bandar Lampung," ujar Aang.

Datanglah mobil ambulans menjemput Deva, Adrian dan Berlin.

Jefri Irwansyah (28), sopir ambulans, mengaku hatinya tersentuh begitu melihat pemandangan di dalam angkot.

Ada Seorang ibu menangis menggendong anaknya yang wafat dan raut sang bapak yang tampak sedih.

"Saya langsung bawa mereka ke rumahnya di Abung Timur. baru sampai jam delapan tadi," kata Jefri Rabu malam.

Sumber: Tribun Lampung
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas