Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Proses Belajar Mengajar di SDN Basirih 10 Bergantung Pasang-surut Air Sungai

Siswa SDN Basirih 10 yang berada di pinggir Kota Banjarmasin, punya semangat juang untuk belajar di tengah keterbatasan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Willem Jonata

TRIBUNNEWS.COM, BANJARMASIN - Siswa SDN Basirih 10 yang berada di pinggir Kota Banjarmasin, punya semangat juang untuk belajar di tengah keterbatasan.

Jarum jam menunjukkan angka 07.30 Wita. matahari menerobos rerimbunan pepohonan yang ada di bantaran Sungai Kuin Kacil di Simpang Jelai Banjarmasin.

Seorang anak berpakaian putih dan rok merah, tampak cekatan merapikan ikatan tali sepatu.

"Mak...ulun tulang ka sekolah (Bu, saya berangkat ke sekolah)," kata si bocah kepada ibunya yang sedang masak di dapur.

Ya, bocah itu bernama Nuramanah. Dia satu dari 75 siswa dan siswi SDN Basirih 10.

Setelah bersalaman dengan sang ibu, dia menyusuri jalan kecil di depan rumuhnya menuju bantaran sungai.

Di pinggir sungai sudah ada temannya, Saidah Aisyah. Ia juga siswi SDN Basirih 10.

Rekomendasi Untuk Anda

Tangan mungilnya langsung melepas ikatan tali jukung (perahu sampan dalam bahasa Banjar).

Keduanya bersama-sama mengayunkan dayungnya menyusuri sungai menuju sekolah yang memerlukan waktu sekitar 15 menit. 

Naik jukung menjadi kegiatan yang akrab baginya. Bahkan jukung satu-satunya alat transportasi untuk menuju dan pulang sekolah.

Hingga kini belum ada akses jalan darat untuk menuju sekolah mereka.

"Kalau arusnya deras, mendayungnya harus kencang. Kalau tidak kencang, kami bisa terbawa arus," ucap Nuramanah.

Siswa lain juga melakukan hal sama. Tapi ada juga yang diantar orangtuanya menggunakan kelotok.

Tak heran di dekat sekolahan itu berjajar rapi belasan kelotok yang menjadi transportasi para siswa dan guru.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas