Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Viral Curhat Seorang Istri yang tak Mau Dipoligami Hingga Nyaris Bunuh Diri, Tapi Suaminya. . .

Dibalut kata-kata halus, curahan itu dibentuk menjadi perjalanan kisah cinta suami istri yang berumah tangga selama dua tahun dalam kondisi di ujung t

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Wahid Nurdin
zoom-in Viral Curhat Seorang Istri yang tak Mau Dipoligami Hingga Nyaris Bunuh Diri, Tapi Suaminya. . .
IST
ilustrasi cerai 

TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya
TRIBUNNEWS.COM -
 Sebuah curhatan seorang perempuan yang diunggah ke media sosial baru-baru ini menjadi viral.

Curahan hati istri ini mendapat banyak sekali perhatian dari warganet.

Tak sekadar curhat, banyak netizen yang merasa kagum akan ketegaran yang dimilikinya.

Akun Facebook Nanda Nini Anggalih berulang kali memposting status haru.

Dibalut kata-kata halus, curahan itu dibentuk menjadi perjalanan kisah cinta suami istri yang berumah tangga selama dua tahun dalam kondisi di ujung tanduk.

Ada pintu keluar di 2 tahun pernikahan (hampir sempurna) saya. Dan Aku mengambilnya.

Rupanya, wanita ini sudah bersama sang suami selama enam tahun.

Tapi, masalah itu datang tiba-tiba.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam 6 tahun itu aku sering berdoa agar pas tua nanti aku meninggal lebih dulu, biar gak ngerasain rasanya ditinggal kamu.

Nanda bercerita bahwa suaminya berniat untuk poligami.

Permintaan itu 'kekeuh' diajukan oleh suami meski dirinya sudah tak mendapat persetujuan dari istrinya.

Baca: Sering Bantu Babeh di Film Si Doel Anak Sekolahan, Begini Penampilan Pemeran Hans Sekarang

Today, i'm saying goodbye. Kepada rumah. Kepada kamar. Kepada lemari yang baru kita beli. Kepada perkakas dapur yang tidak banyak jumlahnya.

Kepada kaos-kaosnya yang akan aku rindukan. Kepada kulkas. Kepada sofa berisik. Kepada meja kerjanya. Kepada kucing. Kepada teras. Kepada SKii yang mungkin tidak sanggup aku beli setelah ini. Kepada halaman.

Kepada langit fajar jogja. Kepada stasiun biasanya aku dijemput. Kepada jalanan yang biasa kita lalui.

Dan segala hal yang akan aku rindukan. Tidak ada dia dirumah itu, oleh sebab itu aku datang. Membereskan sisa kehadiranku, mengepaknya rapat-rapat dan mengirimnya kembali pulang.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas