Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ternyata Ini Pemicu Cuaca Ekstrim di Indonesia Sepekan ke Depan

Cuaca ekstrem juga terpengaruh karena Siklon tropis Cebile di Samudera Hindia dan Siklon Tropis Fehi di Samudera Pasifik

Ternyata Ini Pemicu Cuaca Ekstrim di Indonesia Sepekan ke Depan
SURYA/SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
CUACA EKSTRIM - Awan hitam memayungi Kota Malang terlihat di atas Kampung Tridi, Kelurahan Kesatrian, Kota Malang, Sabtu (25/11/2017). Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi malang menghimbau warga untuk waspada pertumbuhan awan konvektif yang menimbulkan cuaca ekstrim yang berdampak merugikan masyarakat seperti hujan intensitas lebat, badai, guntur dan angin kencang. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Prakirawan BMKG Bandung, Yuni Yulianti, mengatakan, cuaca ekstrem di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, selama beberapa hari ke depan bukan pengaruh dari fenomena super blue blood moon.

Untuk diketahui, analisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi masih terjadi dalam jangka waktu 29 Januari-3 Februari 2018 di beberapa wilayah Indonesia.

"Tidak, cuaca ekstrem tidak ada pengaruh dari super blue blood moon," katanya kepada Tribun Jabar melalui pesan instan WhatsApp, Rabu (31/1/2018).

Cuaca ekstrem, lanjutnya, terpengaruh dari adanya pusat tekanan rendah.

Cuaca ekstrem juga terpengaruh karena Siklon tropis Cebile di Samudera Hindia dan Siklon Tropis Fehi di Samudera Pasifik.

Baca: Kemenhub Keluarkan Maklumat Pelayaran Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi

Dua siklon itu, ujar Yuni Yulianti, memberikan dampak angin kencang ke wilayah Indonesia bagian barat dan potensi hujan ringan hingga lebat.

Diberitakan sebelumnya, Kepala BMKG, Prof Ir Dwikorita Karnawati M Sc Ph D, menjelaskan, berdasarkan analisis pihaknya, potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat masih terjadi dalam jangka waktu seminggu ke depan (29 Januari-3 Februari 2018) di beberapa wilayah Indonesia.

"Hal ini disebabkan pada posisi saat ini, matahari berada di belahan bumi selatan. Akibatnya, suhu udara di belahan bumi selatan lebih tinggi daripada belahan bumi utara," katanya seperti dikutip Tribun Jabar dari siaran pers BMKG yang dikeluarkan pada Senin (29/1/2018).

Halaman
123
Editor: Eko Sutriyanto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas