Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Sindikat Benih Lobster di Trenggalek Diduga Sudah Terorganisir Dengan Rapi

Terkait kasus yang melibatkan Wijianto, nelayan ini yakin sebenarnya Wijianto bukan pemilik barang.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Sindikat Benih Lobster di Trenggalek Diduga Sudah Terorganisir Dengan Rapi
Surya/David Yohanes
Wijianto dan ribuan benur lobster yang diakui miliknya. 

TRIBUNNEWS.COM, TULUNGAGUNG - Pengungkapan 10.400 ekor bayi lobster yang diakui sebagai milik Wijianto (41) warga Watulimo, Trenggalek, masih diselidiki polisi.

Pembeli dari benur lobster yang dilarang ditangkap ini masih misterius. Sindikat perdagangan komoditas ini diduga sudah terrorganisir dengan rapi.

Namun, para nelayan di pesisir selatan Tulungagung, mengungkapkan ada seorang bos besar yang ada di Kecamatan Pakel, Tulungagung, yang diduga menjadi pembeli bibit lobster tersebut.

Baca: Ini Lho, Dua Polwan yang Menyamar Jadi PSK, Begini Pengakuannya

Salah satu nelayan yang enggan disebut namanya mengatakan bos besar ini seorang pendatang dari Banyuwangi yang sewa rumah di wilayah Pakel, karena dianggap strategis. Lokasinya mudah diakses baik dari pesisir selatan Tulungagung maupun Trenggalek.

“Saya belum bisa pastikan apakah dia masih tetap di Pakel atau sudah pindah,” katanya, Selasa (20/3/2018).

Baca: Bela Jonathan Bauman Saat Tampil Canggung, Begini Penjelasan Mario Gomez

Rekomendasi Untuk Anda

Selain bos besar ini, ada beberapa pengepul yang merajai di beberapa pantai di Tulungagung dan Trenggalek. Salah satu yang paling dikenal berinisial S.

Meski orang lokal, S bisa menembus jaringan pemasaran langsung ke Jakarta. Lewat kurir, S bisa menyetor benur-benur ke Jakarta.

Namun jika harganya dianggap jelek atau minimal sama, S akan melempar barang ke bos besar yang ada di Pakel.

“S ini jaringannya juga kuat. Dia sering berhubungan dan kumpul-kumpul dengan aparat,” sambungnya.

Terkait kasus yang melibatkan Wijianto, nelayan ini yakin sebenarnya Wijianto bukan pemilik barang. Wijianto hanya suruhan bos yang biasa mengirim benur ke luar kota.

Baca: Permintaan Korban First Travel: Pak Andika Tobat Yaa, Kasih Keterangan yang Benar

Wijianto sengaja dipasang untuk mengaku sebagai pemilik barang, agar penyelidikan polisi terputus.

“Kalau kurirnya sudah ketemu, pemilik barangnya juga sudah ketemu perkaranya kan sudah selesai. Polisi tidak akan mencari siapa di atas mereka lagi,” paparnya.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas