Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Nyadran di Makam Sewu Bantul, Tradisi Budaya yang Didasari Tuntunan Agama

Terlihat hadir di Pendopo Makam Sewu, Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. Ia mengenakan kopiah hitam dan pakaian hijau linmas

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sugiyarto
zoom-in Nyadran di Makam Sewu Bantul, Tradisi Budaya yang Didasari Tuntunan Agama
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Warga berebut gunungan hasil bumi dari tradisi nyadran makam sewu di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, Senin(7/5/2018). 

Jodhang yang dikirab oleh prajurit berbentuk kotak dan dipikul oleh empat orang. Di dalam Jodhang ini berisi aneka macam makanan. Ada nasi gurih, lauk pauk, apem, gedang rejo dan ingkung.

Sampai di Pendopo Makam Sewu, Jodhang beserta keenam gunungan itu langsung diserahkan kepada tokoh agama untuk didoakan.

Ketua Panitia Nyadran makam sewu, Hariyadi menjelaskan, tradisi nyadran Makam Sewu merupakan tradisi masyarakat Wijirejo dan sekitarnya sebagai bagian birrul walidain, tanda bakti kepada orang tua dan leluhur.

"Tradisi ini diadakan setiap tahun. Bulannya bulan Ruwah, tanggalnya 20 keatas dan dilakukan setiap hari Senin. Tradisi ini sebagai tanda bakti kepada orang tua (birrul walidain) dan kepada leluhur," tuturnya. (tribunjogja)

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas