Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Suhardi Alius: Penanganan Terorisme tidak Selamanya Gunakan Hard Approach tapi Soft Approach

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan sinergi dalam melakukan program penanggulangan terorisme.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Toni Bramantoro
zoom-in Suhardi Alius: Penanganan Terorisme tidak Selamanya Gunakan Hard Approach tapi Soft Approach
humas bnpt
Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH (tengah) usai membuka workshop tersebut, Senin (7/6/2018). 

Bagi yang masih keras, imbuh Suhardi, BNPT akan  terus menyentuh dan memperbaiki ideologi mereka. Tapi kalau tetap keras dan melakukan tindakan menyimpang baru akan lakukan hard approach. Begitu juga keluarganya, terutama anak-anaknya. Mereka dilabeli anak mantan teroris, padahal itu ideologi orang tuanya.

“Sekarang aja 600 lebih mantan napiter. Coba kalau mereka masing-masing punya dua anak, maka ada 1200 anak mantan teroris. Itu tersebar di Indonesia. Mereka harus diselamatkan jangan sampai frustasi. Anak-anak ini korban, gak ngerti dan hanya dibawa orang tuanya di sana. Mereka dicap sebagai anak teroris karena ideologi orang tuanya. Hal-hal seperti ini tidak mungkin dilakukan dengan hard approach, tetapi dengan soft approach dengan hati dan kemanusiaan,” terang mantan Sestama Lemhanas ini.

Contohnya, tegas Suhardi, anak Imam Samudera, yang pertama kali muncul berusia 6 tahun, karena tidak mendapat penanganan saat itu, 12 tahun kemudian, ia ikut berperang di Suriah dan Tewas. Bandingkan sekarang dengan anak Amrozi, terpidana mati kasus bom Bali, Mahendra.

Pemuda yang sekarang 23 tahun itu, sejak berusia 10 tahun sudah minta belajar membuat bom ke pamannya, Ali Fauzi. Itu dilakukan untuk melakukan balas dendam atas eksekusi orang tuanya. Tapi sekarang ia sudah sadar dan ikut program-program pencegahan terorisme bersama BNPT.

“Bahkan pada 17 Agustus lalu, Mahendra menjadi pengibar bendera Merah Putih di kampungnya di Tenggulung, Lamongan. Artinya, segala sesuatu yang keras pun kalau kita sentuh mereka, kita beri perspektif yang baik, kita beri harapan, Alhamdulillah dilunakkan,” pungkas Suhardi Alius.

Rekomendasi Untuk Anda
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas