Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kisah Adik Pramoedya Ananta Toer, Bergelar PHd Tetapi Pekerjaan Pemulung

‎ Semua catatan penting yang membuktikan ia pernah berhasil di Rusia itu terbungkus plastik di dalam koper dan terkunci rapat di lemari pakaian.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Kisah Adik Pramoedya Ananta Toer, Bergelar PHd Tetapi Pekerjaan Pemulung
Soesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore. (KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO) 

Setelah Perundingan Den Haag, Irian Barat masuk ke dalam pangkuan Ibu Pertiwi.

Indonesia berhasil membebaskan Irian Barat.

Sus lalu mendulang kesempatan terbang ke luar negeri setelah lolos penjaringan beasiswa otoritas Rusia.

Dari sekitar 9.000 pendaftar, hanya 30 orang yang lolos, termasuk Sus.

Sus melanjutkan pendidikannya di Fakultas Politik dan Ekonomi University Patrice Lumumba.‎

"Aku tidak jadi berangkat Irian Barat, namun aku bebas dari pakaian hijau yang enam bulan membungkusku.‎ Aku berangkat ke Rusia sekitar tahun 1962. Di situlah kisah hidup baruku dimulai," tutur Sus.

Singkat cerita, menempuh pendidikan di sana tidaklah mudah.

Rekomendasi Untuk Anda

Sus diharuskan mengabdi selama dua tahun di Rusia karena tidak lulus dengan predikat cumlaude.

Sus kemudian melanjutkan program pascasarjana di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov.

Gelar PhD yang lazimnya ditempuh 2 tahun disabetnya hanya dalam tempo 1,5 tahun. ‎

Selama 11 tahun di Rusia, Sus bekerja apa saja, mulai dari penulis, penerjemah, peneliti dan pekerja kasar.

Karena kendali pendidikannya, Sus berpendapatan tinggi.

Sus bergelimang harta di Rusia.

‎Sepekan sekali, dia bersantap di restoran berkelas di Rusia.

Berpindah-pindah lokasi tergantung selera Sus.‎

Sus mengaku sering mentraktir teman-temannya dan menggelar pesta kecil-kecilan.

"Saya penggila buku-buku sastra Rusia. Bahkan suatu ketika dosen belum pernah baca, saya sudah khatam. Selama saya bekerja di Rusia, duit saya banyak. Seminggu sekali makan di restoran berkelas. Saat itu, biaya hidup 1 rubel sehari di Rusia. Padahal sebulan saya kantongi 400 rubel," kenangnya sambil tersenyum.‎ (PUTHUT DWI PUTRANTO)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Soesilo Toer, Adik Pramoedya Ananta Toer yang Bergelar Doktor dan Kini Jadi Pemulung (1)"

Halaman 4/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas