Peternak Mengeluh, Sapi Peliharaannya Tak Mau Makan Rumput yang Terkena Abu Vulkanik
Erupsi yang disertai semburan abu vulkanik dari Gunung Agung membuat sejumlah wilayah di Bangli dan Badung ikut terpapar abu.
Editor: Dewi Agustina

TRIBUNNEWS.COM, AMLAPURA - Erupsi yang disertai semburan abu vulkanik dari Gunung Agung membuat sejumlah wilayah di Bangli dan Badung ikut terpapar abu.
Di Bangli paparan abu terlihat di kawasan Desa Suter, Desa Abang Batundinding dan Desa Kintamani, Bali
"Di sini memang abunya masih tebal. Ini abu yang terkumpul sejak letusan hari Kamis (28/6/2018) lalu sampai saat ini. Masih terus turun hujan abu," ujar seorang warga Desa Suter, Wayan Eka.
Di kawasan Desa Suter, abu vulkanik tampak masih menutupi atap rumah warga.
Tak hanya itu, daun dan pohon-pohon yang berada di pinggir jalan juga tampak berwarna abu-abu akibat tertutup abu vulkanik dengan ketebalan yang bervariasi.
Eka mengatakan, abu vulkanik masih menutupi kawasan tersebut, karena di wilayah tersebut sejak terjadinya hujan abu belum turun hujan.
Karena itu, warga setempat juga mengalami kesulitan air bersih.
Baca: Saksi Gus Ipul di Gresik Tolak Tanda Tangani Rekapitulasi Suara KPU
"Dampaknya di sini juga banyak warga yang tanaman di perkebunannya rusak dan mati akibat abu. Ternak juga kesulitan mencari pakan karena rumputnya kena abu," katanya.
Di wilayah Penelokan dan Kintamani, Batur, abu vulkanik tampak juga menutupi sejumlah atap rumah dan pinggir jalan.
Para petani di Desa Beloksidan, Kecamatan Petang, Badung, juga terdampak abu vulkanik.
Erupsi membuat rumput-rumput di perkebunan terkena abu vulkanik, dan ternak sapi milik petani pun tidak mau memakannya.
"Tanaman di kebun petani belum terpengaruh, karena abu yang menempel masih bisa disemprot dengan air. Namun rumput untuk makan ternak petani yang kini menjadi masalah. Beberapa petani yang saya tanya, sapi-sapinya tidak mau makan rumput yang kena abu vulkanik," tutur seorang petani di Desa Beloksidan, I Ketut Sueta, saat dihubungi Tribun Bali kemarin.
Oleh karena itu, Sueta menambahkan, para petani kini hanya memberi makan ternak, khususnya sapi, dengan batang pisang dan beberapa dedaunan.
"Yang membuat gemuk sapi itu kan rumput. Jadi sapi-sapi yang dipelihara petani di sini terancam kurus, dan ini bisa menurunkan harga jual sapi," ucapnya.
Baca: Investasi Properti di Bali, 7 Pimpinan Perusahaan Jepang Ditangkap Polisi