Kisah Buruh Jasa Tunggang Kuda yang Harus Rela Bermalam di Pantai Goa Cemara
Penghasilan akan masuk ke kantong sang pemilik kuda. Sebagai buruh ia hanya bertugas menyewakan saja. "Saya dibayar bulanan, Rp 650 ribu," katanya
Editor:
Sugiyarto
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin
TRIBUNNEWS.COM, BANTUL- Tangan lelaki paruh baya itu terlihat cekatan memegang tali kendali kuda yang dikaitkan di sebatang pohon di Pantai Goa Cemara, Minggu (9/9/2018).
Mengenakan baju hitam bercorak hijau dan topi, matanya awas melirik dan menawarkan jasa kepada setiap wisatawan yang datang mendekat.
"Monggo naik kuda Pak, Buk..," ucapnya ramah, sembari tersenyum.
Banyak wisatawan yang tertarik.
Kebanyakan mereka ingin berswafoto diatas kuda dengan gaya ala koboi.
Ataupun berkeliling menikmati alam Pantai Goa Cemara dengan berkuda santai.
Usai mengantar wisatawan berkeliling, lelaki itu, balik lagi ketempat semula dan kembali menawarkan jasa tunggang kuda.
Hariyanto namanya. Kepada Tribunjogja.com, ia mengaku berasal dari Pundong, Bantul.
Demi menafkahi keluarga, ia setiap hari rela tidur di Pantai Goa Cemara, menjadi buruh rawat kuda dan menjajakan jasa tunggang kuda kepada wisatawan."Saya itu cuma buruh mas. Kuda ini milik juragan," ungkapnya.
Menjadi buruh jasa tunggang kuda, Hariyanto tidak sendirian.
Ia bersama sejumlah temannya, diamanati oleh sang juragan sebanyak tujuh ekor kuda.
Setiap hari, ia mengaku harus merawat kuda-kuda itu supaya tetap sehat dan kemudian jadi ladang penghasilan dengan jasa menunggang kuda.
"Ramainya kalau hari Sabtu, Minggu dan musim liburan sekolah," terangnya.
Sekali order dalam satu putaran jasa tunggang kuda, Hariyanto mematok harga Rp 30 ribu.
Baca tanpa iklan