Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Rokok Berperan Menentukan Jumlah Penduduk Miskin di Sulawesi Utara

Rokok sangat berkontribusi karena berapapun harganya, naik berapa tidak pernah ada yang protes harga rokok

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Rokok Berperan Menentukan Jumlah Penduduk Miskin di Sulawesi Utara
TRIBUN MANADO/ FERNANDO LUMOWA
Kepala Perwakilan BI Sulut, Soekowardojo (kanan) dan Kepala BPS Sulut Ateng H. memberikan penjelasan terkait angka kemiskinan Sulut, Selasa (15/1/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Rokok menjadi salah penentu jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara.

Rokok, satu di antara belasan komoditas penentu garis kemiskinan di Sulawesi Utara per September 2018.

Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, rokok berada di urutan kedua daftar komoditas yang memberi pengaruh pada Garis Kemiskinan di Sulut.

Rokok berada di urutan kedua di bawah beras sebagai penentu Garis Kemiskinan baik di kota maupun di desa.

Selain beras dan rokok, komoditas bahan makanan yang turut jadi penentu adalah ikan Cakalang, cabai rawit (rica) , ikan Kembung (Oci/Tude), telur ayam, gula pasir dan bawang merah.

"Ini terjadi di seluruh Indonesia. Rokok sangat berkontribusi. Memang demikian faktanya. Berapapun harganya, naik berapa tak pernah ada yang protes harga rokok," kata Kepala BPS Sulut, Hartono Ateng, Rabu (16/1/2019).

Baca: Kisah Anak Petani Sumatera Utara yang Raih Gelar Master di Amerika Serikat dan Bertemu Barack Obama

Sementara, untuk komoditas non makanan yang menentukan Garis Kemiskinan di Sulut ialah listrik, biaya angkutan atau transportasi, bensin, perlengkapan mandi dan perumahan.

Rekomendasi Untuk Anda

 
Baca: Jumlah Penduduk Miskin Sulut Turun 0,3 Persen

"Kemiskinan ditentukan oleh naik turunnya daya beli masyarakat. Itu dilihat dari pengeluaran per kapita setiap bulan," ujar Ateng.

BPS Sulut merilis, jumlah penduduk miskin di Sulut per September 2018 turun dengan persentase 7.59 persen.

Katanya, jumlah penduduk miskin di Sulut yang pengeluaran per kapitanya di bawah Garis Kemiskinan mencapai 189 ribu orang dari total penduduk.

"Jumlah ini menurun dibanding kondisi Maret 2018 yang mencapai 193 ribu orang. Ada penurunan 4 ribu orang," kata Atteng, Selasa (15/1/2019).

Ada dua kategori penduduk miskin berdasarkan daerahnya, yakni penduduk miskin perkotaan dan pedesaan.

Per September 2018, jumlah penduduk miskin di perkotaan di Sulut turun 0, 32 persen menjadi 4.8 persen. Sedangkan jumlahpenduduk miskin di perdesaan, naik 0.08 persen menjadi 10, 57 persen.

"Selang Maret hingga September 2018, penduduk miskin di kota berkurang 1.700-an orang dari 63, 88 ribu menjadi 62, 11 ribu orang," katanya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas