Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Beredar Kabar Potensi Gempa 8,8 SR dan Tsunami Setinggi 20 Meter, BMKG: Gempa Belum Dapat Diprediksi

Ini jawaban Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal kabar adanya potensi gempa 8,8 SR dan tsunami 20 meter di pantai selatan Jawa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Daryono
zoom-in Beredar Kabar Potensi Gempa 8,8 SR dan Tsunami Setinggi 20 Meter, BMKG: Gempa Belum Dapat Diprediksi
Elitereaders.com
Ilustrasi Tsunami - Ini jawaban Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal kabar adanya potensi gempa 8,8 SR dan tsunami 20 meter di pantai selatan Jawa. 

Menurut Daryono, masyarakat harus menerima kenyataan, Indonesia rawan gempa dan tsunami.

"Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat," tulis Daryono.

Sehingga, kata Daryono wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

Daryono lantas membeberkan sejumlah gempa besar, lebih dari magnitudo 7,0 yang pernah mengguncang wilayah Samudera Hindia selatan Jawa.

Sebut saja pada 1863, 1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945, 1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006.

Selain itu, tsunami juga pernah di selatan Jawa pada 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006.

"Ini bukti, informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar, bukan berita bohong," kata Daryono.

Rekomendasi Untuk Anda

Terkait besaran kekuatan/magnitudo gempa yang disampaikan para pakar, lanjut Daryono, itu adalah potensi, bukan prediksi.

Sehingga tidak ada satu pun orang yang tahu kapan terjadinya gempa besar tersebut.

Karena tidak pasti kapan terjadi, masyarakat harus melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural yang nyata.

Di antara caranya adalah membangun bangunan aman gempa dan melakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami.

"Selain itu, membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami," kata dia.

Daryono menyebut hal ini sebagai risiko tinggal dan menumpang hidup di pertemuan batas lempeng.

"Mau tidak mau, suka tidak suka inilah risiko yang harus kita hadapi," ujarnya.

Daryono pun meminta awam tak perlu cemas dan takut setelah mengetahui wilayah Indonesia dekat dengan zona megathrust.

Menurutnya, semua informasi potensi gempa dan tsunami harus direspons dengan langkah nyata, yaitu memperkuat mitigasi.

"Dengan mewujudkan semua langkah mitigasi maka kita dapat meminimalkan dampak, sehingga kita tetap dapat hidup dengan selamat, aman, dan nyaman di daerah rawan gempa," tutur Daryono.

Peristiwa gempa bumi dan tsunami, lanjut Daryono, merupakan sebuah keniscayaan di wilayah Indonesia.

"Yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya," kata dia mengakhiri tulisannya.

(Tribunnews.com/Daryono)

Halaman 4/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas