Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tangkapan Nelayan Menurun Drastis Akibat Tumpahan Minyak di Perairan Karawang

Tiga hari setelah peristiwa tumpahnya minyak Pertamina di perairan Karawang, warga pesisir pantai mengkhawatirkan soal pencaharian mereka.

Tangkapan Nelayan Menurun Drastis Akibat Tumpahan Minyak di Perairan Karawang
Ilham Ryan Pratama/Tribunnews.com
Desa Sedari, selain beberapa warga mengelola usaha wisata di Pantai Sedari, ada pula yang bekerja sebagai nelayan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNNEWS.COM, KARAWANG -- Tiga hari setelah peristiwa tumpahnya minyak Pertamina di perairan Karawang, warga pesisir pantai mengkhawatirkan soal pencaharian mereka.

Desa Sedari, selain beberapa warga mengelola usaha wisata di Pantai Sedari, ada pula yang bekerja sebagai nelayan.

Timin Kurdianto (45) warga Dusun Tirtasari salah satunya.

Dia menerangkan jika ada insiden seperti ini, hasil tangkapannya menurun drastis.

"Kemarin-kemarin penghasilan saya 5 kilogram ikan atau udang, nah karena ada ini bisa turun jadi setengah kilogram, atau bahkan total enggak ada sama sekali," kata Timin di lokasi, Selasa (23/7/2019).

Baca: BREAKING NEWS: Ditabrak Mobil Tangki BBM, Pasangan Suami Istri dan Anaknya Tewas

Baca: Rawan Disalahgunakan, Database Aplikasi Kredit Online Ini Gampang Bobol, History Go-Jek Terbaca

Baca: Alasan Lilik Gantikan Nazar Amien Rais Jalan Kaki dari Yogya ke Jakarta

Baca: VIRAL Kucing Buat Panik Pemilik karena Lari, justru Temukan Bayi Baru Lahir Dibuang

Timin yang juga menjabat sebagai RT 2 Dusun Tirtasari, mengatakan dirinya kini fokus untuk membersihkan pantai dari pasir-pasir yang terkontaminasi tumpahan minyak. Pekerjaan melautnya pun ditinggalkan sementara.

"Nanti lima hari kemudian mungkin bisa melaut lagi. Karena jujur ya, di Dusun Tirtasari ini hampir 85 persen warganya nelayan. Jadi karena ada insiden ini ya kami menganggur," lanjutnya

Dengan produktivitas hasil tangkapan yang menurutn, tentu warga tidak mau memaksa untuk melaut. Selain bahaya, ongkos bahan bakarnya dipastikan membengkak.

Pagi di pesisir pantai utara Karawang, Jawa Barat, warga Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, sudah sibuk dengan peralatan mereka. Tumpahan minyak di utara perairan Karawang sejak tiga hari lalu, membawa minyak ke pantai dan membuat beberapa pasir di pantai menghitam.
Pagi di pesisir pantai utara Karawang, Jawa Barat, warga Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, sudah sibuk dengan peralatan mereka. Tumpahan minyak di utara perairan Karawang sejak tiga hari lalu, membawa minyak ke pantai dan membuat beberapa pasir di pantai menghitam. (Ilham Ryan Pratama/Tribunnews.com)

Nelayan lainnya, Sahrul (25) mengatakan bahwa kebutuhan bahan bakar perahu untuk melaut itu 10 liter solar. Dia mengatakan bahwa tak mungkin mengambil risiko pengeluaran tersebut.

"10 liter bolak-balik sufah keluar lebih dari Rp500 ribu. Kalau hasilnya menurun berarti untuk menutupi ongkos bensin saja belum bisa," katanya.

Dirinya pun sama dengan warga lainnya, termasuk Timin. Dengan modal cangkul dan pengeruk dari kayu, Sahrul mengumpulkan gundukan-gundukan pasir yang terkontaminasi minyak dan menaruhnya di dalam karung yang sudah dilapisi plastik.

Seperti diketahui, tumpahan minyak yang membuat pasir-pasir di Pantai Sedari menghitam tersebut berasal dari insiden kebocoran di perairan utara Karawang.

"Lokasi kebocoran di titim koordinat S 6 09 35" E 107 60'28" kata Kapolres Karawang, AKBP Nuredy Irwansyah Putra, Senin (22/7/2019)

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas