Warga Desa Nyawangan Cemas Menyusul Kematian Sapi Mati Secara Mendadak, Diduga Diracun
Enam ekor di antara sapi yang mati ada di Dusun Puthuk yang terjadi sejak dua bulan lalu.
Editor:
Eko Sutriyanto
Sapi yang mati harganya jatuh hanya sekitar Rp 3.000.000 per ekor.
Padahal dalam kondisi hidup, utamanya sapi perah belum produksi, sekurangnya senilai Rp 17 juta.
Modus ini dilakukan untuk mendapatkan sapi dengan harga murah.
Selanjutnya daging akan dijual layaknya daging sapi pada umumnya, dengan harga normal.
Kepala Dusun Puthuk, Desa Nyawangan, Sutikno membenarkan ada enam sapi di wilayahnya mati mendadak.
Dari ciri-cirinya sapi itu memang mati karena racun.
Sebelumnya sapi dalam kondisi sehat, tiba-tiba melenguh sangat keras, kemudian ambruk, berdiri lagi, ambruk lagi kemudian mati.
Baca: Uang dan Wifi Gratis, Cara Pria Tulungagung Ini Jerat 6 Bocah Laki-laki Lakukan Hubungan Sejenis
"Ada yang mulutnya berbusa atau lidahnya keluar. Ciri-ciri itu biasanya karena racun," ucap Sutikno.
Ciri-ciri ini berbeda dengan sapi yang sakit, yablng biasanya perutnya dalam kondisi melembung berisi udara.
Atau kasus kematian yang paling banyak ditemui warga, yaitu broyongen (prolapsus uteri).
Ditambahkan Sabar, ada sekitar 2000 kepala keluarga di desanya.
Dari jumlah keluarga itu, jika dirata-rata setiap keluarga punya tiga ekor sapi.
“Kalau totalnya ada sekitar 6000-7000 ekor sapi di desa kami. Sepuluh persen sapi pedaging, sisanya sapi perah,” tutur Sabar, selasa (3/11/2019).
Karena itu keberadaan sapi-sapi yang mati mendadak itu membuat warga ketakutan apalagi mereka meyakini, sapi itu diracun dan pelakunya masih berkeliaran.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Tulungagung, melalui Kabid Kesehatan Hewan, Mulyanto mengaku baru mendengar kabar sapi-sapi warga Nyawangan yang mati mendadak.