Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Viral Media Sosial

VIRAL Seorang Ibu Menangis, Diduga Anak Dibully, Ini Saran Psikolog Menyikapi Anak yang Dibully

Viral video seorang ibu menangis karena diduga anaknya dibully di sekolah. Psikolog memberi saran cara menyikapi anak yang menjadi korban bully.

VIRAL Seorang Ibu Menangis, Diduga Anak Dibully, Ini Saran Psikolog Menyikapi Anak yang Dibully
Facebook Uun Unaini
Viral video seorang ibu yang menangis karena anaknya dibully. 

Menurut Adib, seorang guru akan cukup bijaksana untuk mengatasi persoalan bullying di antara murid-muridnya.

Adib memberi catatan, jangan sampai orangtua main hakim sendiri.

Terlebih, sampai bermusuhan dengan sesama orangtua.

 "Jangan sampai orangtua main hakim sendiri atau malah orangtua sama orangtua," ucapnya.

Dalam menyikapi masalah bullying yang dihadapi seorang anak, orang juga perlu dimediasi oleh pihak sekolah.

Solusi Agar Anak Terhindar dari Bully

Tak hanya itu, Psikolog Adib juga memberikan beberapa solusi yang dapat dilakukan orangtua agar anaknya tidak menjadi korban bully.

Solusi tersebut di antaranya yaitu:

1. Anak jangan dimanja

2. Anak perlu bermain dengan teman-temannya di usia balita

3. Melatih keterampilan kognitif, seperti bermain puzzle atau lego

4. Melatih keterampilan bahasa, yaitu kemampuan dalam berkomunikasi dan memiliki kosa kata yang banyak

5. Melatih keterampilan motorik

"Kalau keterampilan motorik kasar itu seperti lari atau lompat," kata Adib.

"Sedangkan keterampilan motorik halus contohnya keterampilan menulis," sambungnya.

6. Melatih keterampilan emosi

"Ketika di rumah, bagaimana caranya anak tidak mudah tersinggung ketika dinasihati, tidak mudah marah, tidak mudah memukul," jelas Adib.

6. Melatih keterampilan sosial

Menurut Adib, hal ini dapat dilakukan dengan melatih anak untuk dapat bekerjasama dengan temannya.

"Misalnya dia punya teman, bisa bekerjasama dengan teman, bisa bermain peran pura-pura menjadi dokter, pura-pura menjadi pasien," kata Adib.

7. Melatih empati

"Ketika punya minum dibagi, atau temannya dibikinin misalnya, itu melatih empati bisa berbagi dengan yang lain," jelas Adib.

Adib menambahkan, kemampuan empati ini juga dapat dilatih dengan membiasakan mengucapkan terimakasih, mudah memafkan maupun meminta maaf ketika salah.

8. Pihak sekolah benar-benar ramah terhadap anak

(Tribunnews.com/Widyadewi Metta/Endra Kurniawan)

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Widyadewi Metta Adya Irani
Editor: Whiesa Daniswara
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...

Berita Terkait :#Viral Media Sosial

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas