Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Duduk Perkara Kasus Siswi SMAN 1 Gemolong 'Diteror' Rohis Agar Berkerudung, Ini Kata Wakepsek

Duduk perkara soal kasus siswi di SMAN 1 Gemolong yang diteror Rohis agar berkerudung. Begini tanggapan sekolah dan wali murid.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Inza Maliana
Editor: Miftah
zoom-in Duduk Perkara Kasus Siswi SMAN 1 Gemolong 'Diteror' Rohis Agar Berkerudung, Ini Kata Wakepsek
TribunSolo.com/Ryantono Puji
Sejumlah orang di depan pintu gerbang SMAN 1 Gemolong Sragen, Kamis (9/1/2020). 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Gemolong Parmono memberikan keterangan usai kabar sekolahnya mencuat ke publik.

Seperti diketahui, seorang wali murid keberatan mengenai anaknya yang mendapat serangan pesan dari ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis).

Pesan tersebut berbunyi ajakan supaya anaknya berhijab.

Parmono mengatakan seruan teror sendiri sebenarnya hanya pendapat dari wali muridnya.

"Neror itu sebetulnya hanya pendapat wali murid saja, sebetulnya tidak sampai meneror," tutur Parmono kepada Tribunnews.com, Kamis (9/1/2020).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Gemolong Parmono, Kamis (9/1/2020).
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Gemolong Parmono, Kamis (9/1/2020). (TribunSolo.com/Ryantono Puji)

Lebih lanjut, Parmono memberikan keterangan mengenai kronologi kasus yang sedang ramai di sekolahnya itu.

"Jadi begini, ada siswi dengan inisial Z di kelas 10 Ipa 3. Dia satu-satunya muslim di sekolah yang tidak berhijab."

Rekomendasi Untuk Anda

"Kemudian ada anggota rohis yang mengingatkan supaya berhijab."

"Tetapi karena pihak yang disuruh berhijab belum siap untuk berhijab dan pihak Rohisnya terlalu semangat untuk mengingatkan," ujarnya kepada Tribunnews.com melalui sambungan telepon.

Menurut Parmono, ajakan tersebut sampai di titik sebuah pesan yang berbunyi melibatkan orangtuanya jika tidak berhijab.

Saat ada kata-kata yang dirasa kurang pas, akhirnya tersinggunglah sang wali murid tersebut.

"Karena orang tuanya termasuk orang yang punya pendapat jilbab itu nanti kalau sudah sadar, tidak perlu dipaksakan."

"Akhirnya karena diingatkan terus menerus maka mungkin keluar kalimat teror, karena pihak rohis sendiri juga berkali-kali mengingatkan," tegas Parmono.

Parmono mengatakan bunyi pesannya itu ada yang menggunakan dalil dan sampai spam chat.

"Jadi pesannya itu sampai spam chat begitu. Karena itu orangtuanya tersinggung," ujarnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas