Surplus Beras Sejak 2016, Kalsel Cetak Sejarah Ketahanan Pangan
Produksi beras Kalsel tahun 2020 mencapai 1,35 juta ton sementara kebutuhan masyarakatnya dengan jumlah penduduk 4,3 juta jiwa hanya sekitar 400 ton
Penulis:
Sanusi
Editor:
Eko Sutriyanto
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kalimantan Selatan (Kalsel) boleh berbangga.
Pasalnya provinsi ini mampu mencetak sejarah yang cemerlang dalam hal ketahanan pangan.
Hampir setiap tahun, Kalsel mencatat surplus beras.
Di tengah rencana pemerintah pusat untuk kembali mengimpor beras, Dinas Pertanian Kalsel berharap agar beras itu tak masuk ke Kalsel.
Kepala Dinas Pertanian Kalsel Syamsir Rahman mengatakan, produksi beras Kalsel pada tahun 2020 mencapai 1,35 juta ton sementara kebutuhan untuk Kalsel dengan jumlah penduduk 4,3 juta jiwa hanya sekitar 400 ribu ton.
"Kebutuhan kita untuk Kalsel dengan 4,3 juta jiwa hanya 400 ribu ton setahun.
Itu berarti kita surplus dan kita penyangga pangan nasional urutan ke 11 diluar Jawa," ujar Syamsir Rahman beberapa waktu lalu.
Penghargaan
Koordinator Koalisi Rakyat Banjar di Banjarmasin Zul Fahmi mengatakan sejak 2016 hingga saat ini, Kalsel mampu terus mengenjot produksi berasnya dan setiap tahun terus mengalami peningkatan.
Baca juga: 5 Poin Inti Laporan WHO Terkait Asal Usul Covid-19 di Wuhan: Kemungkinan Besar Berasal dari Hewan
Sejak tahun 2016, Kalsel sudah memperoduksi sebanyak 2 juta ton gabah (setara dengan 1,4 juta ton beras). Hal ini terus meningkat hingga saat ini.
Tidak mengherankan bila Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut Kalsel merupakan salah satu penyanggah pangan nasional.
"Dan di tahun 2020 Kalsel di bawah kepemimpinan Gubernur Sahbirin atau yang sering dipanggil Paman Biri, memperoleh penghargaan di Kementerian Pertanian karena berhasil mengamankan stok pangan selama pandemi Covid-19," katanya, Sabtu (3/4/2021).
“Kementerian Pertanian sudah kasih apresiasi. Itu salah satu wujud pengakuan di tingkat nasional,” ujarnya.
Menurut Zul Fahmi, kemampuan Kalsel tetap mengamankan stok pangan di tengah pandemi covid-19 yang membuat perekonomian dunia dan nasional bergerak lambat bahkan defisit merupakan prestasi yang tidak tangung-tanggung.