Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kelompok Bersenjata di Papua

Mengaku Tak Sepaham, Aktivis Papua Ini Kecam Sepak Terjang KKB

Markus Yenu pun angkat bicara. Ia mengatakan ketidaksepahamannya dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh KKB.

Mengaku Tak Sepaham, Aktivis Papua Ini Kecam Sepak Terjang KKB
Dok Satgas Nemangkawi
Aktivis WPNA Markus Yenu. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua, Musa Abubar

TRIBUNNEWS.COM, MIMIKA - Aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dalam satu pekan terakhir, telah membuat ketakutan dan ancaman terhadap masyarakat di Kabupaten Puncak, Papua.

Akibat aksi teror tersebut, korban jiwa dan korban materiil tak terhindarkan, bahkan sebagian masyarakat memilih meninggalkan Puncak dan mengamankan diri ke Kota Mimika.

Aktivis West Papua National Authority (WPNA) wilayah Domberai, Markus Yenu pun angkat bicara. Ia mengatakan ketidaksepahamannya dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh KKB.

Baca juga: Selamat dari Serangan KKB di Beoga, Kepala Suku Dambet Bakar Batu Sebagai Ungkapan Rasa Syukur

"Dari diri saya sendiri, tentu saya tidak sependapat dengan aksi yang dilakukan oleh KKB. Dari kabar yang beredar lewat hubungan keluarga dari Puncak, ada banyak kesalahpahaman yang terjadi. Tentu ini menyakitkan sebab korban sudah terlanjur berjatuhan," kata Markus kepada Tribun-papua.com, Minggu (18/4/2021).

Menurut Markus Yenu, KKB bertindak sangat ceroboh dan tidak dalam pertimbangan yang cukup matang, meski pihaknya mengklaim jika korban yang telah dibunuh adalah bagian dari mata-mata aparat keamanan, namun tindakan semacam itu justru sangat merugikan.

Baca juga: Daftar 16 Aksi Kekejaman KKB Terhadap Warga Sipil di Papua Dalam Kurun Waktu 4 Bulan Terakhir

Markus Yenu menyebutkan, tindakan keji dari KKB akan meruntuhkan 'perjuangan' yang sedang ia bangun.

Markus Yenu mengaku ia adalah aktivis yang juga memperjuangkan nama ‘Papua’ lewat jalur kemanusiaan.

"Kami sadar jika pertumpahan darah tidak akan memberikan kebebasan, kalaupun bebas kita sudah kehilangan anggota keluarga sendiri akibat dari penembakan-penembakan yang terjadi," ujarnya.

Sebelumnya, pada Kamis (8/4/2021) sekitar pukul.09.30 WIT, KKB melakukan aksi penembakan di sebuah kios di Kampung Julugoma. Oktovianus Rayo, guru SD Impres Beoga tewas karena ditembak.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Tribun Papua
  Loading comments...

Produk Populer

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas