Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pendeta SAE Nababan Meninggal Dunia

Pendeta SAE Nababan Tutup Usia, Pernah Kritisi Masalah di Papua Semasa Hidup

Pendeta SAE meninggal dunia di usia ke-88 tahun setelah menjalani perawatan intensif di RS Medistra, Jakarta.

Pendeta SAE Nababan Tutup Usia, Pernah Kritisi Masalah di Papua Semasa Hidup
Tribun Medan
Kolase Foto anak-anak Papua (kiri) dan Mantan Ephorus HKBP Dr SAE Nababan 

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Pendeta Soritua Albert Ernst (SAE) Nababan meninggal dunia, pada Sabtu (8/5/2021).

Pendeta SAE meninggal dunia di usia ke-88 tahun setelah menjalani perawatan intensif di RS Medistra, Jakarta.

Semasa hidup, almarhum pernah mengkritisi permasalah Papua.

Reaksi itu dilontarkan Pdt. SAE Nababan saat hadir dalam diskusi dengan GAMKI belum lama ini.

Pdt. SAE Nababan mengungkapkan ketidaksetujuaannya atas pendekatan yang demikian (ala militer dengan kekuatan senjata).

Baca juga: Aksi Kriminal KKB OPM terhadap Orang Asli Papua Patut Dipertanyakan

“Militer harus ditarik. Tidak perlu militer mengurus permasalahan ini,” tegas SAE yang dikutip dari artikel Catatan Perjalanan Pdt. Dr. S.A.E. Nababan, LLD yang dipublish pada 13 Februari 2021 di laman saenababan.com.

Sebagai pendeta di lima zaman dan sekaligus orang yang pernah mengalami represi dari rezim, termasuk dengan penggunaan aparat militer untuk mengintimidasi, SAE Nababan berharap pemerintah saat ini tidak mengulangi kesalahan pemerintahan Orde Baru yang sering bertindak melanggar demokrasi dan kemanusiaan.

Baca juga: Fraksi Gerindra Harap Revisi Otsus Jadi Solusi Persoalan Papua

“Dulu waktu awal reformasi kita serukan agar tentara kembali ke barak. Banyak yang khawatir kalau dwifungsi ABRI sepenuhnya dicabut, kita bakal kacau. Ternyata kita bisa melewatinya tanpa kekacauan berarti. Hal yang sama juga bisa untuk kasus Papua,” ujarnya.

Selain mengubah pendekatan dengan senjata, SAE Nababan juga mengingatkan beberapa hal yang sama pentingnya, yaitu menghilangkan segala bentuk rasialisme dan memberikan akses, kesejahteraan, serta kesempatan yang lebih besar pada warga Papua.

“Yang juga paling penting adalah adanya pengakuan. Orang Papua memberikan sumber daya alamnya dan banyak sekali uang bagi bangsa kita. Itu harus diakui. Jangan kita cuma bilang sudah menyalurkan banyak dana ke Papua,” tegasnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Sanusi
Sumber: Tribun Medan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas